Ketersediaan air bersih layak minum merupakan salah satu tujuan utama Sustainable Development Goals (SDGs). Sumber air minum di perkotaan umumnya berasal dari air permukaan yang karakteristiknya dipengaruhi oleh faktor geografis, iklim, dan curah hujan. Turbidity menjadi salah satu parameter utama kualitas air karena partikel tersuspensi dapat menurunkan kejernihan visual sekaligus mengganggu efektivitas desinfeksi. Oleh sebab itu, pengendalian turbidity melalui proses koagulasi-flokulasi perlu dioptimalkan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas lokasi pembubuhan koagulan pada perpipaan dan cascade di IPA Karang Anyar II, Palembang. Metode penelitian meliputi pengukuran turbidity dan TDS air baku serta air bersih dengan dosis koagulan yang ditentukan melalui jar test. Analisis dilakukan dengan uji t-test pada dua kelompok data: turbidity rendah (<200 NTU) dengan pembubuhan di perpipaan dan turbidity tinggi (>200 NTU) dengan pembubuhan di cascade. Hasil menunjukkan efisiensi pengurangan turbidity pada cascade (99,09–99,57%) lebih tinggi dibanding perpipaan (95,61–96,95%), meskipun turbidity akhir keduanya sama-sama < 3 NTU dan tidak berbeda signifikan. Rata-rata kenaikan TDS sekitar 30%, dengan perpipaan lebih stabil (27,50–46,51%) sedangkan cascade lebih bervariasi (5,28–52,57%). Namun demikian, nilai TDS akhir pada kedua metode tetap jauh di bawah standar maksimum 300 mg/L. Dengan demikian, pembubuhan koagulan di cascade pada kondisi turbidity tinggi dan di perpipaan pada kondisi turbidity rendah sudah sesuai dan efektif menghasilkan kualitas air bersih sesuai standar.