Nikolaus Dachi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

MAKNA ESENSIAL DAN TUJUAN UTAMA SAKRAMEN PERJAMUAN KUDUS BERDASARKAN 1 KORINTUS 11: 23-34 SERTA SUMBANGSIH TEOLOGISNYA BAGI JEMAAT MASA KINI Imelda Sagala, Hotria; Nikolaus Dachi
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2024): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.6, No.1, December 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v6i1.370

Abstract

This research discusses the existence of congregation members who do not understand the essential meaning of Holy Communion, which is often considered merely a ritual or formality. In fact, there are congregation members who are able to participate in Holy Communion, but do not reflect the meaning of Holy Communion. This can be seen when they have bad relationships with each other such as the presence of jealousy, divisions, and so on. As a result, many congregations follow Holy Communion without reflecting the values contained in it, such as unity, love, and forgiveness. The purpose of this study is to analyze the concept of the sacrament of Holy Communion based on 1 Corinthians 11:23-34 and formulate its theological contribution for the church today. This research uses the exegesis method to explore the meaning and main purpose of Holy Communion in the context of Paul's letter to the Corinthians. The results show that Paul affirms Holy Communion as a memorial of Christ's sacrifice, a means of fellowship in the body of Christ, and a call to live in unity and love. Paul also warns against observing Holy Communion in an unworthy manner, as this could bring punishment upon themselves. However, until now there are still many believers who observe Holy Communion without proper understanding. Therefore, more in-depth teaching from church leaders is needed so that Holy Communion does not just become a tradition, but is truly practiced.   Penelitian ini membahas tentang adanya anggota jemaat yang tidak memahami makna esensial dari Perjamuan Kudus dan menganggap sekadar ritual/ formalitas. Bahkan, ada anggota jemaat mampu mengikuti Perjamuan Kudus, tetapi tidak mencerminkan makna Perjamuan Kudus. Hal itu terlihat ketika mereka memiliki relasi yang buruk dengan sesamanya seperti adanya keirihatian, perpecahan, dan sebagainya. Akibatnya, banyak jemaat yang mengikuti Perjamuan Kudus tanpa mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kesatuan, kasih, dan pengampunan. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis konsep sakramen Perjamuan Kudus berdasarkan 1 Korintus 11:23-34 serta merumuskan sumbangsih teologisnya. Penelitian ini menggunakan metode eksegesis untuk menggali makna dan tujuan Perjamuan Kudus dalam konteks surat Paulus kepada jemaat Korintus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menegaskan Perjamuan Kudus sebagai peringatan atas pengorbanan Kristus, sarana persekutuan dalam tubuh Kristus, dan panggilan untuk hidup dalam kesatuan dan kasih. Paulus juga memperingatkan agar jemaat tidak mengikuti Perjamuan Kudus dengan cara yang tidak layak, karena dapat membawa hukuman bagi diri mereka sendiri. Namun, hingga kini masih banyak jemaat yang menjalankan Perjamuan Kudus tanpa pemahaman yang benar. Maka, diperlukan pengajaran yang lebih mendalam dari pemimpin gereja agar Perjamuan Kudus tidak hanya menjadi tradisi, tetapi sungguh-sungguh dihayati dalam kehidupan jemaat.
GEMBALA YANG SEJATI BERDASARKAN 1 PETRUS 5:1-4 Nikolaus Dachi; Hotria Imelda Sagala
Journal of Golden Generation Religious Vol. 1 No. 1 (2025): AGUSTUS 2025 : Journal of Golden Generation Religious
Publisher : PT. Lembaga Penerbit Penelitian Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65244/jggr.v1i1.10

Abstract

Tulisan ini mengkaji prinsip kepemimpinan rohani yang ideal menurut 1 Petrus 5:1–4, dengan menyoroti karakteristik gembala yang sejati. Petrus, sebagai sesama penatua dan saksi penderitaan Kristus, memberikan nasihat kepada para pemimpin jemaat agar menggembalakan kawanan Allah dengan sukarela, bukan karena paksaan atau demi keuntungan pribadi, melainkan dengan pengabdian tulus, menjadi teladan, dan tidak memerintah dengan otoritas yang menindas. Penekanan utamanya adalah bahwa pelayanan yang lahir dari kasih dan integritas akan memperoleh mahkota kemuliaan dari Gembala Agung. Tulisan ini relevan untuk konteks gereja masa kini, sebagai cermin untuk menilai dan membentuk kepemimpinan yang berpusat pada Kristus.