Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Daya Saing Usahatani Porang di Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun: The analysis of the Porang farming competitiveness in Dagang District, Madiun Regency Setyaningbudi, Armanda Arum; Kurniawati Hidayat, Nia
Indonesian Journal of Agricultural Resource and Environmental Economics Vol. 3 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/ijaree.v3i1.50232

Abstract

Porang merupakan komoditas umbi-umbian yang bernilai ekonomi tinggi di pasar internasional sehingga banyak dibudidayakan di Indonesia. Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun menjadi daerah penghasil porang terbesar di Indonesia. Permasalahan utama yang dihadapi oleh petani porang yaitu fluktuasi harga output karena Tiongkok menutup pasar ekspor porang Indonesia. Penyebabnya kualitas porang Indonesia belum mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan. Selain itu, petani kesulitan dalam permodalan terutama untuk pembelian bulbil (benih). Kondisi tersebut berpengaruh terhadap daya saing porang di Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun. Berdasarkan permasalahan tersebut, adapun tujuan dari penelitian ini yaitu (1) menganalisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif porang di Kecamatan Dagangan dan (2) menganalisis pengaruh perubahan harga input-output terhadap keunggulan komparatif dan kompetitif porang di Kecamatan Dagangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Policy Analysis Matrix (PAM) dan analisis sensitivitas. Hasil analisis PAM menunjukkan bahwa porang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif karena nilai PCR dan DRCR yang dihasilkan lebih kecil dari satu. Adapun analisis sensitivitas menunjukkan bahwa kebijakan stabilitas harga yang kurang efektif dan keterbatasan ketersediaan pupuk bersubsidi serta bibit porang yang berimplikasi pada penurunan harga output dan peningkatan harga input menurunkan keunggulan kompetitif dan komparatif usahatani porang di Kecamatan Dagangan. Porang is a tuber commodity with high economic value in the international market and has started to be widely cultivated in Indonesia. Dagangan District, Madiun Regency, is one of the largest porang-producing in Indonesia. Fluctuations in output prices because Tiongkok closed the Indonesian porang export market. The quality of porang could be more suitable for the standards. Farmers have difficulties getting capital, especially buying bulbils (seeds). This condition affects the competitiveness of people in the Dagangan District. The objectives of this research are (1) to analyze the comparative and competitive advantages of porang in the Dagangan District and (2) to analyze the effect of changes in input-output prices on the comparative and competitive advantages of porang in the Dagangan District. The methods used are Policy Analysis Matrix (PAM) and sensitivity analysis. The results of the PAM analysis show that porang has comparative and competitive advantages because PCR and DRCR values are less than one. The sensitivity analysis shows that ineffective price stability policies and limited availability of subsidized fertilizers and porang seeds have implications for decreasing output prices and increasing input prices, reducing the competitive and comparative advantage of porang farming in Dagangan District.
Analisis Pengaruh Implementasi AANZFTA terhadap Kreasi dan Diversi Perdagangan Impor Daging Sapi di Indonesia: Analysis of the Impact of AANZFTA Implementation on Beef Import Trade Creation and Diversion in Indonesia Putri, Elgi; Kurniawati Hidayat, Nia
Indonesian Journal of Agricultural Resource and Environmental Economics Vol. 2 No. 2 (2023): December 2023
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/ijaree.v2i2.50322

Abstract

ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) merupakan integrasi ekonomi di antara negara-negara ASEAN, Australia, dan New Zealand. Salah satu bentuk implementasi AANZFTA terwujud dalam penurunan hambatan tarif impor pada komoditas daging sapi. Penurunan tarif tersebut dapat memengaruhi Indonesia sebagai negara net importir daging sapi. Daging sapi impor yang berasal dari negara-negara anggota AANZFTA memiliki keunggulan kompetitif akibat penurunan tarif impor dibandingkan dengan daging sapi impor yang berasal dari negara-negara non anggota AANZFTA. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk: (1) Menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi impor daging sapi di Indonesia selama tahun 2005-2020; dan (2) Menganalisis pengaruh implementasi AANZFTA terhadap kreasi perdagangan dan diversi perdagangan impor daging sapi di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan membandingkan volume dan nilai impor daging sapi Indonesia dari beberapa negara anggota (Australia, New Zealand, dan Singapura) dan non anggota (Amerika Serikat, India, Jepang, dan Spanyol) AANZFTA dalam rentang tahun 2005-2020. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis regresi data panel dengan model gravitasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Impor daging sapi Indonesia dipengaruhi secara signifikan dan positif oleh PDB riil per kapita Indonesia, PDB riil per kapita negara sumber impor, dan diversi perdagangan serta dipengaruhi secara signifikan dan negatif oleh produksi daging sapi di Indonesia, nilai tukar riil rupiah terhadap mata uang negara sumber impor, dan kreasi perdagangan. (2) Implementasi AANZFTA menyebabkan impor daging sapi Indonesia dari negara-negara anggota AANZFTA menurun sebesar 2,97 persen dan impor daging sapi Indonesia dari negara-negara non anggota AANZFTA meningkat sebesar 2,39 persen dibandingkan dengan sebelum AANZFTA diimplementasikan. The ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) represents an economic integration among ASEAN, Australia, and New Zealand. Within the AANZFTA framework, a commitment was made to reduce beef import tariff barriers. This reduction in beef import tariffs has the potential to impact Indonesia as a net importer of beef. Beef imports from AANZFTA member countries gain a competitive advantage due to reduced import tariffs, unlike beef imported from non-AANZFTA member countries. Hence, this research aims to: (1) Analyze the influencing factors on beef imports in Indonesia from 2005 to 2020, and (2) Assess the impact of AANZFTA implementation on the creation and redirection of Indonesia’s beef imports. The study involves comparing the volume and value of Indonesian beef imports from AANZFTA member countries (Australia, New Zealand, and Singapore) and non-member countries (United States, India, Japan, and Spain) during the 2005-2020 period. The analytical method employed is panel data regression analysis using a gravity model. The research findings indicate: (1) Beef imports in Indonesia between 2005 and 2020 were influenced by various factors including Indonesia’s beef production, real exchange rate, real GDP per capita of Indonesia, real GDP per capita of exporting countries, trade creation dummy, and trade diversion dummy; (2) AANZFTA implementation resulted in a 2,97% reduction in Indonesia’s beef imports from AANZFTA member countries and a 2,39% increase in beef imports from non-AANZFTA member countries compared to the scenario without AANZFTA implementation.