Ayu Lestari, Dirga
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Diskursus Perkembangan Turats Dalam Islam Ayu Lestari, Dirga
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v22i1.33487

Abstract

Dinamika pemikiran Islam menunjukkan trend yang sama sekali baru, perkembangan ini ditandai dengan lahirnya karya-karya akademis dan intelektual sebagai pembacaan ulang terhadap warisan budaya dan intelektual Islam. Tradisi bukan dimaknai sebagai penerimaan secara totalitas atas warisan klasik, sehingga istilah otentisitas menjadi sesuatu yang debatable. Pengkajian terhadap turats mutlak dibutuhkan dalam rangka menemukan formasi baru epistemologi Arab-Islam. Sebab inti reformasi pemikiran sebenarnya terletak pada upaya mengembangkan sebuah metode dan visi baru tentang turats. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis kajian pustaka. Peneliti mengambil data dengan teknik mencari referensi dari berbagai sumber pustaka, terutama mengambil data dari sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer yakni sumber data utama yang dicari, adapun sumber sekunder merupakan data pendukung. Sumber primer terdiri dari buku karya Muhammed Abed Al-Jabiri yang berjudul Formasi Nalar Arab: Kritik Tradisi Menuju pembebasan dan pluralism wacana Interreligius. Adapun sumber sekunder terdiri dari buku, jurnal, hasil seminar dan diskusi dengan ahli yang relevan dengan tema penelitian. Islam sebagai agama baru” bagi bangsa Arab masehi telah menjadi inspirator utama untuk menjadi bangsa yang besar dan terkenal. Ada beberapa sarjana muslim yang memberikan wacana pemikiran mengenai tradisi dan budaya yaitu lebih tepatnya turats. Antara lain yaitu:  Pertama, Muhammed Arkoun menggunakanistilah dekonstruktif untuk turats. Ia bukan hanya berani membongkar (mendekontruksi), tetapi ia juga mencoba membangun kembali (rekontruksi) tradisi Islam yang pernah ada. Namun, ini nampaknya sebuah proyek yang sukar, sehingga ia terpaksa melakukan rekontruksi ini dengan meminjam metode dari Barat. Kedua, Hasan Hanafi menggunakan istilah oksidentalisme untuk turat. oksidentalisme ini tidak dapat dilepaskan dari tiga pilar atau agenda dari proyek tradisi dan pembaharuannya (at-turats wa at-tajdid), yang meliputi sikap kritis terhadap tradisi, sikap kritis terhadap Barat dan inilah yang sering disebut dengan oksidentalisme dan sikap kritis terhadap realitas