Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Media Management of the Nahdlatul Ulama Da'wah Institute in Promoting Religious Moderation in the City of Padang Sidempuan Matondang, Ahmad Sultoni; Ritonga, Hasnun Jauhari
Ishlah: Jurnal Ilmu Ushuluddin, Adab dan Dakwah Vol. 5 No. 1 (2023): Juni
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32939/ishlah.v5i1.237

Abstract

The focus of this article is on the socialization of religious moderation in the City of Padang Sidimpuan. The city of Padang Sidimpuan has a diverse community, both ethnic, cultural and religious. For peace in the area, it is necessary to cultivate religious moderation in the midst of society which is carried out by the Nahdatul Ulama Da'wah Institute. In this socialization, communication and management are needed because in this process there are a series of concepts that must be prepared in a message before the message is channeled to the communicant. The method used is a qualitative method with data collection techniques using interviews and observation then using descriptive analysis. With the finding that in Padang Sidempuan, the Nahdlatul Ulama Da'wah Institute uses social media as their communication tool in socializing the important role of moderation in people's religious life. The Nahdlatul Ulama Da'wah Institute also thinks about a plan, organization, implementation and supervision that is carried out with the aim of influencing the people of Padang Sidempuan. The Nahdlatul Ulama Da'wah Institute uses social media such as Facebook, Instagram, Whatsapp to disseminate their content which leads to forms of counseling through social media with the aim of stimulating the public for the socialization of religious moderation. Focus kajian artikel ini tentang sosialisasi moderasai beragama di Kota Padang Sidimpuan. Kota Padang Sidimpuan memiliki masyarakat yang beragam, baik etnis, budaya dan agama. Untuk ketentraman di wilayah tersebut, diperlukan penanaman moderasi beragama di tengah masyarakat yang dilakukan oleh Lembaga Dakwah Nahdatul Ulama. Di dalam sosialisasi tersebut diperlukan komunikasi dan manajemen sebab proses tersebut terdapat serangkaian konsep yang harus disiapkan pada suatu pesan sebelum pesan tersebut disalurkan kepada komunikan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi kemudian menggunakan analisis deskriptif. Dengan temuan bahwa di Padang Sidempuan, Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi mereka dalam mensosialisasikan peran penting moderasi pada kehidupan beragama masyarakat. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama juga memikirkan mengenai suatu rencana, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi masyarakat di Padang Sidempuan. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, Whatsapp untuk menyebarkan konten-konten mereka yang mengarah kepada bentuk penyuluhan melalui sosial media dengan tujuan untuk menstimulus masyarakat atas sosialisasi moderasi beragama.
Komunikasi Risiko dan Krisis dalam Bencana Ekologis: Studi Komparatif tentang Banjir, Asap Lintas Batas, dan Kebakaran Gambut di Indonesia Matondang, Ahmad; Matondang, Ahmad Sultoni; Latip, Mhd
Jurnal Pendidikan dan Dakwah Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pendidikan dan Dakwah
Publisher : PT Anugerah Literasi Indomedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Environmental crises in Indonesia ranging from urban floods, transboundary haze in Sumatra, to air pollution crises caused by peatland fires in Kalimantan demonstrate that effective risk and crisis communication remains a significant challenge. Although previous studies have examined the technical aspects of disaster management, a research gap persists due to the limited number of studies that comparatively analyze pre-crisis, during-crisis, and post-crisis communication patterns across these three ecological disasters. This study offers a novelty through the synthesis of a communicative resilience model that highlights institutional coordination, public trust-building, and community participation. Using a qualitative approach grounded in library research and comparative case studies, this research analyzes policy documents, scientific articles, environmental reports, and media coverage. The analysis employs thematic analysis techniques (Braun & Clarke), involving coding, categorization, and cross-case comparison. The findings reveal that failures in risk communication are primarily caused by institutional fragmentation and low public literacy; meanwhile, crisis communication is marked by message inconsistency, delayed information, and digital media dynamics. In the post-crisis phase, weak evaluation and limited transparency hinder the restoration of public trust. These findings contribute theoretically by proposing an integrated communication model for ecological risk management and offer practical recommendations for governments and environmental agencies to develop more responsive, collaborative, and crisis-resilient communication systems.   Fenomena krisis lingkungan di Indonesia mulai dari banjir perkotaan, kabut asap lintas batas di Sumatera, hingga krisis udara akibat kebakaran gambut di Kalimantan menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi risiko dan krisis masih menjadi tantangan serius. Meskipun berbagai penelitian telah membahas aspek teknis penanggulangan bencana, gap kajian muncul karena minimnya studi yang menganalisis secara komparatif pola komunikasi pre-crisis, during crisis, dan post-crisis pada tiga jenis bencana ekologis tersebut. Penelitian ini menawarkan novelty berupa sintesis model komunikasi ketahanan lingkungan (communicative resilience) yang menekankan koordinasi institusional, pembentukan kepercayaan publik, dan partisipasi komunitas. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dan studi kasus komparatif, penelitian ini menganalisis dokumen kebijakan, artikel ilmiah, laporan lingkungan, dan pemberitaan media. Proses analisis dilakukan melalui teknik analisis tematik (Braun & Clarke) dengan tahap coding, kategorisasi, hingga perbandingan lintas kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegagalan komunikasi risiko terutama disebabkan oleh fragmentasi institusional dan rendahnya literasi publik; sementara krisis komunikasi ditandai oleh inkonsistensi pesan, keterlambatan informasi, dan dinamika media digital. Pada tahap pasca krisis, lemahnya evaluasi dan transparansi menghambat pemulihan kepercayaan publik. Temuan ini menyumbang kontribusi teoretis berupa model komunikasi terpadu untuk pengelolaan risiko ekologis, serta rekomendasi praktis bagi pemerintah dan lembaga lingkungan dalam membangun sistem komunikasi yang lebih responsif, kolaboratif, dan tahan krisis.
Mengelola Konflik Dalam Komunikasi Online: Etika dan Keamanan di Dunia Digital Matondang, Ahmad Sultoni
Jurnal Dakwah dan Masyarakat Vol 1 No 2 (2025): Jurnal Dakwah dan Masyarakat
Publisher : PT Anugerah Literasi Indomedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to analyze the forms of conflict that arise in online communication and examine the role of digital ethics and security as strategies for creating a healthy and safe digital communication space. The method used is qualitative through content analysis and in-depth interviews with five informants selected using purposive sampling, including active social media users, digital community moderators and communications experts. Data was collected from various digital platforms indicating conflicts, ethical violations and security threats, then analyzed using thematic analysis techniques. The research results show that conflict in online communication is triggered by the loss of non-verbal cues, anonymity, differences in values, gaps in response time, and low digital literacy. Digital ethics, such as honesty, respect, responsibility and preservation of privacy, have proven to play an important role in mitigating conflict, while digital security contributes to protecting users from cyber risks. This research implies the need to strengthen digital literacy, community guidelines, and moderation policies to build a more ethical, safe, inclusive, and constructive communication environment in the digital era. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk konflik yang muncul dalam komunikasi online serta mengkaji peran etika digital dan keamanan sebagai strategi untuk menciptakan ruang komunikasi digital yang sehat dan aman. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui analisis konten dan wawancara mendalam terhadap lima informan yang dipilih secara purposive sampling, meliputi pengguna aktif media sosial, moderator komunitas digital, dan ahli komunikasi. Data dikumpulkan dari berbagai platform digital yang menunjukkan adanya konflik, pelanggaran etika, dan ancaman keamanan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik dalam komunikasi online dipicu oleh hilangnya isyarat non-verbal, anonimitas, perbedaan nilai, kesenjangan waktu respons, serta rendahnya literasi digital. Etika digital, seperti kejujuran, rasa hormat, tanggung jawab, dan pemeliharaan privasi, terbukti berperan penting dalam meredam konflik, sedangkan keamanan digital berkontribusi pada perlindungan pengguna dari risiko siber. Penelitian ini mengimplikasikan perlunya penguatan literasi digital, pedoman komunitas, dan kebijakan moderasi untuk membangun lingkungan komunikasi yang lebih etis, aman, inklusif, dan konstruktif di era digital.
Media Televisi dan Transformasi Masyarakat Indonesia: Peran Televisi dalam Pendidikan, Nilai Sosial, dan Pembentukan Opini Politik Matondang, Ahmad; Matondang, Ahmad Sultoni; Ray, Muhammad Gani; Fikri, Sholeh
Jurnal Dakwah dan Masyarakat Vol 2 No 1 (2026): Jurnal Dakwah dan Masyarakat
Publisher : PT Anugerah Literasi Indomedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In the global context of media and society, television remains a significant mass communication medium, particularly in developing countries, despite the rapid expansion of digital and social media platforms. While existing international studies predominantly focus on the declining influence of television or its quantitative media effects, limited attention has been given to how television continues to function as a social institution shaping education, social values, and political consciousness in transitional societies such as Indonesia. This study aims to analyze the role of television media in the process of social transformation, specifically in the domains of non-formal education, social value construction, and political opinion formation within Indonesian society. Employing a qualitative descriptive-interpretative approach, this research utilizes in-depth interviews, non-participant observation, and document analysis to capture audiences’ lived experiences and interpretations of television content. The findings reveal that television remains influential as a non-formal educational medium, a symbolic arena for negotiating social values, and a strategic actor in shaping political awareness through agenda-setting and framing mechanisms. Theoretically, this study contributes to media and communication scholarship by reaffirming the relevance of agenda-setting and social construction theories within a convergent media environment. Empirically, it provides contextual insights into the persistent socio-political role of television in the Global South, highlighting its adaptive capacity amid digital transformation. Dalam konteks global media dan masyarakat, televisi masih mempertahankan peran penting sebagai medium komunikasi massa, terutama di negara berkembang, meskipun ekosistem media mengalami transformasi signifikan akibat pesatnya perkembangan media digital dan media sosial. Namun, sebagian besar kajian akademik cenderung menekankan penurunan pengaruh televisi atau membatasi analisis pada pendekatan kuantitatif berbasis efek media, sehingga masih menyisakan kesenjangan penelitian terkait pemahaman mendalam mengenai fungsi televisi sebagai institusi sosial yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media televisi dalam proses transformasi masyarakat Indonesia, khususnya dalam aspek pendidikan nonformal, konstruksi nilai-nilai sosial, serta pembentukan opini dan kesadaran politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-interpretatif melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa televisi masih berfungsi sebagai media pendidikan nonformal yang memperluas literasi sosial masyarakat, menjadi arena simbolik dalam negosiasi dan perubahan nilai sosial, serta berperan strategis dalam pembentukan opini dan kesadaran politik melalui mekanisme agenda setting dan framing. Secara teoretis, penelitian ini menegaskan kembali relevansi teori agenda setting dan konstruksi sosial media dalam konteks media konvergen. Secara empiris, penelitian ini memberikan kontribusi kontekstual terhadap kajian media dan masyarakat dengan menegaskan keberlanjutan peran televisi sebagai agen transformasi sosial di Indonesia di tengah dinamika globalisasi media dan transformasi digital.