Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan budaya digital dengan transformasi identitas Muslim milenial serta korelasinya terhadap perkembangan industri kreatif di era globalisasi digital. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui analisis berbagai jurnal internasional, buku akademik, laporan lembaga resmi, dan penelitian terdahulu yang relevan dengan tema budaya digital, identitas Muslim, dan industri kreatif Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muslim milenial tidak berada pada posisi pasif dalam menghadapi arus budaya global, melainkan aktif melakukan proses negosiasi identitas melalui pola selektif-adaptif, rekonstruktif-kreatif, dan konfrontatif-apologetik. Budaya digital menjadi arena penting dalam pembentukan identitas Islam kontemporer yang lebih cair, fleksibel, dan hybrid melalui interaksi antara nilai religius dengan budaya populer global. Transformasi tersebut terlihat dari berkembangnya fenomena hijrah digital, dakwah kreatif, modest fashion, content creator Islami, serta berbagai bentuk industri kreatif berbasis nilai-nilai Islam. Penelitian ini juga menemukan bahwa budaya digital memiliki karakter ambivalen karena mampu memperkuat religiusitas generasi muda sekaligus memunculkan tantangan berupa komodifikasi agama, superficial religiosity, dan dominasi logika kapitalisme digital. Dalam konteks industri kreatif, identitas Islam tidak hanya menjadi ekspresi spiritual, tetapi juga berkembang menjadi modal budaya dan ekonomi yang memiliki nilai komersial tinggi di ruang digital