Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Carrying and Using Sharp Weapons in Public: Regulation, Challenges, and Reform Sahrudin Sahrudin; Farhan Jiddan Saros; Raden Bagus Mochammad Ramadhan R.H; Taufik Rizki; Zalfa Rizqiya Shabriananda
Decova Law Journal Vol. 1 No. 1 (2025): Decova Law Journal
Publisher : CV. Pustaka Parawali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71239/dlj.v1i1.53

Abstract

The phenomenon of the use and possession of sharp weapons in public spaces in Indonesia, especially in Madura, has become a serious concern because it has the potential to pose a threat to public security and order. The tradition of carrying sharp weapons, such as celurit, is often associated with local culture but is also often misused in various criminal acts. This study aims to analyze regulations related to the possession and use of sharp weapons based on Emergency Law Number 12 of 1951 and assess the effectiveness of their implementation in the community, especially in the socio-cultural and security contexts. The research method used is a normative approach with legal analysis and literature study. The results show that although the regulation has regulated the prohibition of carrying sharp weapons in public spaces without a permit, its implementation still faces various challenges, including a lack of public understanding, diverse legal interpretations, and constraints in law enforcement. Cultural factors, such as the tradition of "nyekep" and carok in Madura, also complicate law enforcement efforts. The conclusion of this study confirms that synergy between the government, law enforcement officials, and the community is needed to improve legal understanding and strengthen supervision. Recommendations include socializing the law, revising regulations to clarify provisions related to permits and the purpose of using sharp weapons, and strengthening sanctions for violators to create a safer and more orderly environment.
PENERAPAN PUPUK KOMPOS DENGAN METODE EMBER BERTUMBUK DI DESA KELBUNG Safriudin Rifandi; Farhan Jiddan Saros; Akmal Taufik Ridho; Robert Ahmad Saputro; Infitahatun Nimah
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Januari
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/7srr2592

Abstract

Desa Kelbung adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan Galis, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur, Indonesia, bagian dari Pulau Madura. Kegiatan pengimplementasian kompos yang di adakan di desa kelbung pada tanggal 11 januari 2026 diadakan oleh kelompok kkn 12 Universitas Trunojoyo Madura. kehadiran mahasiswa melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) memiliki peran strategis sebagai agen edukasi dan pendampingan masyarakat. Mahasiswa KKN tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai fasilitator yang menjembatani pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat desa. Melalui program pengelolaan sampah organik menggunakan metode komposting ember bertumpuk, mahasiswa KKN berupaya memperkenalkan teknologi sederhana, murah, dan mudah diterapkan oleh warga dalam kehidupan sehari-hari. Metode penelitian ini menggunakan eksperimen yang sesungguhnya, Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan pendekatan eksperimental, menggunakan desain Rancangan Acak Lengkap (RAL) untuk membandingkan perlakuan pupuk kompos metode ember bertumbuk dengan kontrol tanpa pupuk. Lokasi penelitian di lahan pertanian Desa Kelbung. metode ember bertumpuk mencerminkan penerapan prinsip pengelolaan sampah berbasis sumber. Sampah organik diolah langsung di tingkat rumah tangga, sehingga mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan dan pembuangan akhir. Metode komposting menggunakan ember bertumpuk merupakan teknologi tepat guna yang relatif mudah diterapkan di tingkat rumah tangga dan komunitas kecil. Meskipun memiliki keunggulan dari sisi biaya dan kesederhanaan, metode ini juga memiliki sejumlah keterbatasan yang perlu dipahami agar tidak terjadi ekspektasi berlebihan terhadap hasil kompos yang dihasilkan.