Haikal, M. Arsyad
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Consolidation of Shia History in the Classical Era: A Critical Study of Al-Qummi's Interpretation: Konsolidasi Riwayat Syiah di Era Klasik: Telaah Kritis terhadap Tafsir Al-Qummi Haikal, M. Arsyad
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 6 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/abhats.vol6.iss2.art14

Abstract

This research conducts a critical examination of Tafsir al-Qummi by ‘Ali bin Ibrahim al-Qummi (d. 307 H), a foundational work representing the narrative consolidation phase of Imami Shi’ism in the Classical Era. The paper argues that Tafsir al-Qummi, written amid political oppression and the Occultation, successfully established the Shi’i theological and fiqhi identity by positioning Ahlulbayt traditions as the primary exegetical authority. However, its near-exclusive reliance on pure narration (riwā'ī) renders it vulnerable to authenticity critiques. This critical study employs Tafsir al-Mizan by Sayyid Muhammad Husain Tabataba’i (d. 1402 H) as a methodological benchmark. Al-Mizan represents the modern phase, which prioritizes the synthesis of intellect and text (Al-Qur’an bi Al-Qur’an). A comparative analysis of three crucial case studies, the Verse of Wilāyah (Q 5:55), the law of Mut’ah (Q 4:24), and gender relations (Qawwāmah) (Q 4:34), reveals an epistemological shift. It is found that while Al-Qummi focuses on narrative and ideological assertion, Al-Mizan maintains the Shi’i doctrinal conclusions but revolutionizes the process by providing philosophical, sociological, and rational justifications. This evolution marks a shift in exegetical authority from a historical-traditional basis to a universal-intellectual one within the Imami Shi’i tradition. [Penelitian ini melakukan telaah kritis terhadap Tafsir al-Qummi karya ‘Ali bin Ibrahim al-Qummi (w. 307 H), sebuah karya fundamental yang merepresentasikan fase konsolidasi riwayat Syiah Imamiyah di Era Klasik. Makalah ini berargumen bahwa Tafsir al-Qummi, yang ditulis di tengah tekanan politik dan Ghaibah, berhasil menegakkan identitas teologis dan fikih Syiah dengan menempatkan riwayat Ahlulbait sebagai otoritas penafsiran utama. Namun, ketergantungannya yang nyaris total pada narasi murni (riwa’i) menjadikannya rentan terhadap kritik otentisitas hadis. Telaah kritis ini dilakukan dengan menggunakan Tafsir al-Mizan karya Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i (w. 1402 H) sebagai tolok ukur metodologis. Al-Mizan mewakili fase modern yang memprioritaskan sintesis akal dan teks (Al-Qur'an bi Al-Qur'an). Analisis komparatif atas tiga studi kasus krusial, Ayat Wilayah (QS 5:55), hukum Mut'ah (QS 4:24), dan relasi gender (Qawwāmah) (QS 4:34), menunjukkan sebuah pergeseran epistemologis. Ditemukan bahwa sementara Al-Qummi berfokus pada penegasan naratif dan ideologis, Al-Mizan mempertahankan kesimpulan doktrinal Syiah tetapi merevolusi prosesnya dengan memberikan justifikasi filosofis, sosiologis, dan rasional. Pergeseran ini mencerminkan evolusi otoritas penafsiran dari basis historis-tradisional ke basis universal-intelektual dalam tradisi Syiah Imamiyah.]
From Narrative of Innocence to Theology of Presence: Barthesian Semiotic Analysis on "Aku Ada" by Panji Sakti: Dari Narasi Kepolosan Menuju Teologi Kehadiran: Analisis Semiotika Barthesian pada Lagu ’Aku Ada’ Karya Panji Sakti Haikal, M. Arsyad; Heri Kuseri; Moh. Ikhwan Faidlur Ruhman; Bambang Irawan
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 7 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/abhats.vol7.iss1.art9

Abstract

This study examines the phenomenon of meaning transformation in the song Aku Ada by Panji Sakti, a work that presents a unique anomaly in the landscape of Indonesian Sufi music. Contrary to the general assumption that Sufi works are born from complex adult contemplation, genetic data from this research reveals that the song originated from the author’s spontaneous interaction with kindergarten children. The central problem lies in how a text born from the innocence of “childhood narrative” can transcend into a profound theological text for adult listeners. This study aims to dismantle this semiotic mechanism using a qualitative method with Roland Barthes’ Semiotics approach, supported by exclusive interview data as genetic context. The results reveal three key findings. First, at the connotation level, the children’s impulse to immediately help a friend (“when falling”, “when hungry”) is a pure manifestation of fitrah (innate nature), paralleling the ethics of Futuwwah. Second, at the myth level, the negation of fictional figures (“I am not Superman”) serves as a deconstruction of the “myth of power” and a critique of modern human ego inflation, while affirming the realism of physical presence. Third, the inspiration from the story of Prophet Ibrahim seeking a dining companion provides an intertextual basis for the ambiguity of the pronoun “Aku” (I), where the profane act of sharing food is reinterpreted as God’s manifestation (tajalli) through the availability of His servant. The conclusion confirms The Death of the Author theory, where the author’s pedagogical intent is surpassed by the text’s theological meaning production, proving that the path to gnosis (makrifat) can be found through the innocence of human nature. [Penelitian ini mengkaji fenomena transformasi makna dalam lagu ’Aku Ada’ karya Panji Sakti, sebuah karya yang menunjukkan anomali unik dalam lanskap musik sufistik Indonesia. Berbeda dengan asumsi umum bahwa karya sufistik lahir dari kontemplasi dewasa yang rumit, data genetik penelitian ini mengungkap bahwa lagu tersebut bermula dari interaksi spontan penulis dengan anak-anak Taman Kanak-Kanak (TK). Permasalahan utama penelitian terletak pada bagaimana teks yang lahir dari kepolosan ”narasi kanak-kanak” dapat mengalami transendensi makna menjadi teks teologis yang mendalam bagi pendengar dewasa. Penelitian ini bertujuan untuk membongkar mekanisme semiotis tersebut dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan pisau analisis Semiotika Roland Barthes, didukung oleh data wawancara eksklusif sebagai konteks genetik. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan kunci. Pertama, pada tingkat konotasi, impuls anak-anak untuk segera menolong teman (”saat jatuh”, ”saat lapar”) merupakan manifestasi murni dari fitrah yang sejajar dengan etika futuwwah. Kedua, pada tingkat mitos, negasi terhadap tokoh fiksi (”Aku bukan Superman”) berfungsi sebagai dekonstruksi terhadap ”mitos kekuatan” (myth of power) dan kritik terhadap inflasi ego manusia modern, sekaligus menegaskan realisme kehadiran fisik. Ketiga, inspirasi kisah Nabi Ibrahim a.s. yang mencari teman makan menjadi landasan intertekstual bagi ambiguitas pronomina ”Aku”, di mana aksi profan berbagi makanan dimaknai ulang sebagai manifestasi (tajalli) Tuhan melalui ketersediaan hamba-Nya. Simpulan penelitian ini menegaskan berlakunya teori The Death of the Author, di mana intensi pedagogis pengarang dilampaui oleh produksi makna teologis teks, membuktikan bahwa jalan menuju makrifat dapat ditemukan melalui kepolosan fitrah manusia.]