Jika membahas masalah rezeki sering kali dikaitkan dengan masalah ekonomi di kehidupan manusia. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap rezeki sebagai sumber kesejahteraan hidup, sehingga mereka lupa bahwa mereka hidup di bumi Allah SWT ini tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. seseorang yang jika diberi kekayaan maka dia akan bermaksiat, sedangkan jika diberi kecukupan maka dia akan gemar beribadah. Namun, ada juga orang yang jika diberi kemiskinan dia bermaksiat dan jika diberi kekayaan dia akan gemar beribadah dan bersedekah. Kekayaan juga dapat membuat seseorang itu berbuat angkuh dan semaunya.Untuk mengungkap makna dibalik kata rizq yang mana kata rezeki disebutkan sebanyak 123 kali di dalam alqur’an. Maka dari itu diperlukan pendekatan yang sesuai dengan hal tersebut. Seiring berkembangnya zaman, metode penafsiran Al-Qur’an yang beredar saat ini juga beragam, salah satunya ialah menggunakan pendekatan tafsir tematik. Menurut Al-Farmawi ayat-ayat yang berkaitan dengan tema, namun jika tidak memungkinkan bisa dengan menyeleksi ayat-ayat yang mewakili dengan tema yang di angkat. Rezeki menurut Ibnu Katsir segala sesuatu yang diberikan oleh Allah kepada makhluknya. Allah meluaskan rezeki mereka tujuannya untuk menguji mereka dengan rezeki mereka tersebut. Jika Allah memberikan cobaan dan menyempitkan rezeki bukan berarti Allah menghinakannya. Tujuannya ialah agar manusia selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan. Kata rezeki didalam Al-Qur’an terbagi kedalam 32 bentuk dan dibagi lagi menjadi 4 bentuk isytiqaq rezeki terbagi mejadi 3 macam yaitu rezeki yang dijamin yang mana Allah telah menjamin seluruh rezeki makhluk-Nya, rezeki yang dibagikan yang mana rezeki kadarnya bisa berubah-ubah, tergantung usaha seseorang untuk mendapatkannya, dan yang terakhir rezeki yang di janjikan yang mana allah telah menjanjikan rezeki kepada seluruh makhluknya