Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Manajemen Kelas Kualitatif yang diterapkan oleh Guru Matematika di Banyuwangi dalam dua konteks krusial: menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mereduksi Kecemasan Matematika (Math Anxiety) pada siswa. Math Anxiety adalah hambatan afektif signifikan yang menghambat potensi akademik siswa. Penelitian ini menggunakan desain Studi Kasus Kualitatif Multisitus dengan memilih tiga Guru Matematika SMA/SMK di Banyuwangi yang teridentifikasi berhasil menciptakan kelas yang suportif. Partisipan penelitian meliputi 3 Guru Matematika, 6 siswa dengan tingkat Math Anxiety sedang/tinggi, dan 3 guru Bimbingan Konseling (BK). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipatif (minimal 4 sesi per guru), dan analisis dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mencerminkan praktik inklusif. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga strategi manajemen kelas yang berhasil: (1) Error-as-Opportunity: Guru secara eksplisit mengubah kesalahan menjadi sumber belajar bersama, bukan kegagalan individu; (2) Flexible Grouping: Penggunaan pengelompokan yang dinamis dan non-hierarkis untuk menghilangkan stigma "siswa pintar" dan "siswa lambat"; dan (3) Affective Scaffolding: Guru menggunakan humor, kontak mata, dan waktu tunggu (wait-time) yang lebih lama untuk mengurangi tekanan kognitif. Studi menyimpulkan bahwa Manajemen Kelas Afektif oleh guru berperan penting dalam memediasi hubungan antara pembelajaran dan emosi siswa, sehingga menciptakan safe space kognitif yang inklusif.