Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Tindak Tutur Direktif terhadap Psikologis Anak dalam Video TikTok #Dediphobia: Analisis Psikopragmatik Alaida Maharani, Nazwa; Yayat Sudaryat; Temmy Widyastuti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.7145

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tindak tutur direktif dalam fenomena viral #Dediphobia di TikTok yang dipopulerkan oleh Dedi Mulyadi serta dampaknya terhadap kondisi psikologis anak. Kajian ini menyoroti bentuk tindak tutur direktif yang muncul, mekanisme interpretasi anak terhadap tuturan tersebut, serta pengaruhnya terhadap aspek emosional, perilaku, dan kognitif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologi deskriptif. Sumber data utama berupa video bertagar #Dediphobia dari akun resmi Dedi Mulyadi dan beberapa akun pengguna lain, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur mengenai tindak tutur direktif, psikopragmatik, dan teori psikososial Erikson yang menjelaskan dinamika pembentukan identitas dan kontrol diri anak. Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan dokumentasi, kemudian dianalisis berdasarkan klasifikasi direktif Searle, kajian psikopragmatik atas persepsi anak, serta interpretasi fenomenologis terhadap pengalaman subjektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur direktif dalam fenomena #Dediphobia meliputi perintah, larangan, ajakan, peringatan, izin, dan penegasan komitmen. Strategi komunikasi menonjolkan figur otoritas dan afeksi untuk memperkuat daya persuasif tuturan. Fenomena ini berpengaruh terhadap pembentukan rasa takut, kepatuhan, identitas sosial, dan kontrol diri anak.
CAMPUR KODE PADA PROSES PEMBELAJARAN BAHASA SUNDA DI KELAS X SMAN 1 BEBER (KAJIAN SOSIOLINGUISTIK): (Kajian Sosiolinguistik) Nandi Sanusi Muhamad Idris; Nunuy Nurjanah; Temmy Widyastuti
Anafora: Jurnal Penelitian Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 6 No 2 (2026)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, UNIKU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/ajpm.v6i2.314

Abstract

ABSTRAK: Kemampuan Bahasa yang bilingual dan multilingual menyebabkan terjadinya campur kode. Campur kode sering terjadi pada komunikasi, utamanya komunikasi pada saat pembelajaran di kelas pada guru dan siswa. Pada penelitian ini membahas campur kode yang terjadi dalam komunikasi pada saat pembelajaran basa Sunda di kelas X SMA Negeri 1 Beber. Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengambilan data digunakan Teknik triangulasi (gabungan) yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil pada penelitian ini ditemukan 244 data bentuk campur kode yang dibagi menjadi tiga yaitu, 224 bentuk campur kode ke dalam, 7 bentuk campur kode ke luar, dan 13 campur kode campuran. Berdasarkan wujud campur ditemukan sebanyak 319 unsur yang dibagi menjadi enam yaitu, 127 unsur wujud kata, 120 unsur wujud frasa, 10 wujud baster, 38 wujud klausa, 1 wujud idiom, dan 23 wujud kata ulang. Selanjutnya mengenai faktor yang mempengaruhi terjadinya campur kode pada proses pembelajaran, berdasarkan hasil wawancara dengan guru dan siswa ditemukan enam faktor pemyebabnya diantaranya yaitu, 1) faktor latar belakang bahasa yang di pakai di lingkungan keluarga, 2) faktor kebiasaan, 3) faktor pengaruh media sosial, 4) faktor kemampuan siswa ketika menggunakan Bahasa, 5) faktor bahasa yang bersifat multilingual, dan 6) faktor kebutuhan dalam pembelajaran. KATA KUNCI: campur kode; bentuk; wujud; factor yang mempengaruhi >  MIXED-CODE INSTRUCTION IN SUNDANESE LANGUAGE LEARNING IN GRADE 10 AT SMAN 1 BEBER (A SOCIOLINGUISTIC STUDY)   ABSTRACT: Bilingual and multilingual language skills lead to code mixing. Code mixing often occurs in communication, especially communication during classroom learning between teachers and students. In this study, we discuss the mixing of codes that occur in communication during learning Sundanese language in class X of SMA Negeri 1 Beber. In this study, a qualitative method with a descriptive approach was used. The data collection technique was used triangulation (combined) techniques, namely observation, interviews, and documentation. The results of this study found 244 mixed code form data which was divided into three, namely, 224 inward mixed code forms, 7 outward mixed code forms, and 13 mixed code mixed forms. Based on the mixed form, it was found that there were 319 elements divided into six, namely, 127 elements of word forms, 120 elements of phrase forms, 10 forms of baster, 38 forms of clauses, 1 form of idioms, and 23 forms of repetitions. Furthermore, regarding the factors that affect the occurrence of code mixing in the learning process, based on the results of interviews with teachers and students, six factors were found, namely, 1) the language background factor used in the family environment, 2) habit factor, 3) the influence factor of social media, 4) the ability factor of students when using the language, 5) the multilingual language factor, and 6) the factors of need in learning. KEYWORDS: mix code; shape; exist; influencing factors