Artificial intelligence (AI) is rapidly advancing, impacting economy, education, healthcare, and spirituality. It mimics human cognition via learning, reasoning, communication, and problem-solving. Weak AI excels in narrow tasks; strong AI approaches general intelligence. In Christian theology, AI intersects with the Incarnation and imago Dei (Genesis 1:26–27), affirming human dignity through God’s image. This article uses a normative theological approach to argue that AI lacks an immortal soul, covenantal relationship with God, and intrinsic moral will—thus cannot bear imago Dei. Method: hermeneutics of key texts (Genesis 1:26–27, Psalm 8, John 4:24, Colossians 1:15), integration of Augustine, Aquinas, Rahner, Moltmann, and Pannenberg, plus descriptive-analytical review of AI in Indonesia. Findings: AI offers benefits (fintech, agriculture, Bible apps) but risks bias, dehumanization, and idolatry. Conclusion: AI extends human creativity but remains a tool, not imago Dei. Ethical, pastoral guidelines are urged for Indonesia.AbstrakKecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, memengaruhi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan rohani. AI meniru kognisi manusia melalui pembelajaran, penalaran, komunikasi, dan pemecahan masalah. AI lemah unggul pada tugas sempit; AI kuat mendekati kecerdasan umum. Dalam teologi Kristen, AI beririsan dengan inkarnasi dan imago Dei (Kejadian 1:26–27), menegaskan martabat manusia. Artikel ini menggunakan pendekatan teologis-normatif untuk membuktikan AI tidak memiliki jiwa abadi, relasi perjanjian dengan Allah, dan kehendak moral intrinsik—sehingga bukan imago Dei. Metode: hermeneutika teks kunci, integrasi Augustine, Aquinas, Rahner, Moltmann, Pannenberg, dan analisis AI di Indonesia. Temuan: AI bermanfaat (fintech, pertanian, aplikasi Alkitab) tapi berisiko bias, dehumanisasi, dan penyembahan berhala. Kesimpulan: AI memperluas kreativitas manusia tapi tetap alat, bukan imago Dei. Pedoman etis-pastoral diperlukan di Indonesia.