Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia namun secara paradoks Indonesia tetap menjadi importir produk halal terbesar di dunia. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan strategis antara potensi konsumsi domestik dan kapasitas produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dimensi budaya, khususnya "dimensi pahlawan" menurut model Geert Hofstede, dapat berperan sebagai katalisator dalam mengatasi kesenjangan ini. Analisis difokuskan pada industri makanan dan fesyen halal, dengan menggunakan kerangka kewirausahaan berkelanjutan Tetrapreneur yang digagas oleh Rika Fatimah. Dengan menggunakan metode studi literatur kualitatif, penelitian ini menyintesis kerangka teoritis untuk menunjukkan bahwa tokoh-tokoh Muslim kontemporer yang sukses dapat berfungsi sebagai “pahlawan” dalam mendorong pertumbuhan industri halal di Indonesia. Keberhasilan dan nilai-nilai yang mereka miliki bisa menginspirasi dan menjadi model perilaku bagi wirausahawan lain. Ketika pengaruh kultural ini disalurkan secara strategis melalui empat pilar Tetrapreneur yaitu Chainpreneur, Marketpreneur, Qualitypreneur, dan Brandpreneur, maka ekosistem industri halal dapat diperkuat secara sistematis. Hasil penelitian ini memberikan implikasi teoritis dengan menawarkan sintesis baru antara model budaya Hofstede dan kerangka kewirausahaan Fatimah, serta implikasi praktis berupa panduan strategis bagi pembuat kebijakan dan pemimpin bisnis untuk memanfaatkan aset budaya sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi nasional khususnya dalam mendorong pertumbuhan industri halal di Indonesia.