Tingginya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Teknik Kendaraan Ringan (TKR) mengindikasikan adanya kesenjangan (mismatch) kompetensi antara sekolah dan industri. Teaching Factory (TEFA) diimplementasikan sebagai solusi link and match, namun implementasinya di TKR menghadapi tantangan teknologi yang cepat dan biaya investasi tinggi. Systematic Literature Review (SLR) ini bertujuan untuk menganalisis dan menyintesis model inovasi kurikulum TEFA di TKR, mengevaluasi efektivitasnya, serta memetakan faktor pendukung dan penghambat. Metode SLR digunakan melalui pencarian artikel (2020-2025) di database Scopus dan Google Scholar, dengan kata kunci spesifik "Teaching Factory", "Sekolah Menengah Kejuruan", "Inovasi Kurikulum", dan "Teknik Kendaraan Ringan". Melalui proses penyaringan PRISMA, 21 artikel relevan diidentifikasi dan dianalisis. Hasil sintesis menemukan berbagai model inovasi seperti SMK Pusat Keunggulan (8+i link and match), Kelas Industri (misalnya BUMA School Program), dan TEFA berbasis digital (SIMBAT). Program ini terbukti efektif meningkatkan hard skills dan daya serap lulusan, di mana SMKN 1 Alas mencatat peningkatan serapan dari 25% menjadi lebih dari 50%. Meski demikian, pembahasan menunjukkan bahwa TEFA secara konsisten kesulitan meningkatkan soft skills (sikap, kebiasaan, dan kreativitas siswa). Implementasi program di TKR seringkali belum maksimal, terhambat oleh dua kendala utama: (1) keterbatasan sarana prasarana bengkel standar industri, dan (2) kurangnya jumlah guru TKR produktif yang memiliki pengalaman industri. Disimpulkan bahwa inovasi kurikulum TEFA di TKR efektif untuk link and match kompetensi teknis, namun belum optimal dalam pengembangan soft skills.