Perkembangan teknologi komunikasi digital telah merekonstruksi relasi antara media, pesan, dan khlayak. Pada era media komunikasi konvensional khalayak memiliki posisi sebagai penerima pesan pasif yang hanya menyerap pesan secara linear. Namun, pada era media komunikasi digital, mereka bertransformasi menjadi subjek komunikasi yang aktif dalam memproduksi, menafsirkan, serta mendistribusikan makna pesan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran khalayak dalam pembentukan opini public pada ruang komunikasi digital dengan menggunakan keranka teori Nerwork Society dan Mass Self Communication, serta konsep Global Village. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif interpretitif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumen, analisis isi, dan wawancara terhadap pengguna aktif media sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika komunikasi digital berlangsung melalui tiga tahap utama, yakni Emergence, Amplifikasi dan Distribusi, serta sirkulasi makna dan Mobilisasi Afektif. Ketiga tahap tersebut memperlihatkan bagaimana khlayak berperan sebagai interpreter yang membentuk makna sosial melalui mekanisme algoritmik, jaringan pengikut, serta keterlibatan emosional kolektif. Temuan penelitian ini menegaskan pergeseran locus kekuasaan komunikasi dari otoritas institusional menuju kapasitas partisipatif khalayak yang mampu memobilisasi makna dan afeksi public. Secara teoritis, kajian ini memperkaya khazanah ilmu komunikasi digital melalui integrasi perspektif teknologi, jaringan, dan budaya partisipatif dalam memahami pembentukan opini public di ruang maya.