p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Moderasi
Adinda Fatimah Rahmawati
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Moderasi

Kritik Matan Hadis atas Hukuman bagi Orang Murtadin: Kontekstualitas Hermeneutika Fazlur Rahman Adinda Fatimah Rahmawati
Jurnal Moderasi Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2024.42.01

Abstract

There is a notable difference between the consequences for apostates as stated in the Qur’an and the Hadith. The Qur’an mentions that apostates will be replaced by people who are better and will face eternal punishment in the afterlife. In contrast, the Hadith prescribes the death penalty for apostates in this world. For Muslims, it is essential to study the application of apostasy laws in the current context. This study employs a descriptive analysis using Fazlur Rahman’s hermeneutic approach to Hadith. Rahman’s principle emphasizes that Islamic law should be understood according to the context of the times. His approach applies a situational interpretation of Hadith, encouraging Muslims to reevaluate the elements of Hadith and their relevance today. Rahman suggests several strategic steps: first, understanding the literal meaning of the Prophet’s Hadith; second, examining the historical and social context during the Prophet’s time, including the reasons for the Hadith’s revelation (asbab al-wurud); and third, considering relevant instructions in the Qur’an. This approach allows scholars to distinguish the underlying legal objectives (ratio legis) from specific legal rulings and to formulate the ideal moral principles of the Hadith. The study finds two main points. First, while the wording in the Qur’an and Hadith differs, Qur’anic consequences apply when apostates do not cause harm, whereas Hadith consequences apply when apostates create disorder or damage. Second, the Hadith prescribing the death penalty is authentic, but its application is not universal; it is context-dependent and relevant only under certain circumstances.   Abstrak Terdapat perbedaan antara konsekuensi bagi orang murtad antara redaksi Al-Quran dan redaksi hadis. Dalam Al-Quran disebutkan bahwasanya orang yang murtad akan digantikan dengan kaum yang jauh lebih baik dan orang yang murtad dimasukkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya (hukuman akhirat). Sementara hadis menyebutkan bahwa bagi pelaku murtad akan dikenai hukuman mati (hukuman duniawi). Sebagai seorang muslim, perlu untuk mengkaji lebih dalam terhadap pemberlakuan hukuman bagi pelaku murtad pada konteks saat ini. Penelian ini menggunakan  analisis deskriptifdengan pendekatan hermeneutika  Fazlur Rahman terhadap hadis. Hermeneutika Fazlur Rahman menerapkan penafsiran situasional terhadap hadis dan menegaskan bahwa umat Islam perlu untuk melakukan revaluasi terhadap unsur yang terkandung dalam hadis dan penafsirannya sesuai dengan kondisi saat ini. Ia mengisyaratkan adanya beberapa langkah strategis. Pertama, memahami makna teks hadis Nabi, kemudian memahami latar belakang situasionalnya, yakni menyangkut situasi Nabi dan masyarakat pada periode Nabi secara umum, termasuk dalam ini adalah asbab al-wurud. Di samping itu juga memahami petunjuk-petunjuk Al-Qur’an yang relevan. Dari sini akan dapat dipahami dan dibedakan nilai-nilai nyata atau sasaran hukumnya dari ketetapan legal spesifiknya, dan dapat dirumuskan prinsip ideal moral dari hadis tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan dua point utama yakni : pertama, Redaksi yang disebutkan dalam Al-Quran dan redaksi dalam hadis memang berbeda. Namun pada penggunaannya, konsekuensi bagi orang murtad sebagaimana yang tertulis dalam Al-Quran diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut tidak membuat kerusakan ataupun kekacauan bagi kelompok lainnya. Sementara konsekuensi yang disebutkan dalam hadis diberlakukan apabila orang yang murtad tersebut menimbulkan kekacauan dan kerusakan. Kedua, hadis hukuman mati bagi pelaku murtad dibuktikan shahih. Namun dalam penggunaannya redaksi hadis ini tidak bisa digunakan pada semua zaman, melainkan hanya pada konteks-konteks tertentu saja.
Dinamika Penafsiran Al-Qur’an di Indonesia: Pra Kemerdekaan Awal hingga Akhir Adinda Fatimah Rahmawati
Jurnal Moderasi Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jm.2025.52.02

Abstract

The interpretation of the Qur'an has a long and very important history, which is closely related to the social, political, and cultural contexts that surround it. During the colonial period in Indonesia, especially under Dutch rule, the interpretation of the Qur'an faced various challenges influenced by the repressive political environment and restrictions on religious freedom. The Qur'an not only functions as a guide to worship, but also as a very important tool in the resistance against colonial oppression and the preservation of Islamic identity. This article describes the interpretation of the Qur'an in Indonesia which is limited to the pre-independence period of Indonesia from beginning to end. This article uses a historical approach, namely describing the development and dynamics of Indonesian interpretation by looking at it from a historical perspective from the early to the late pre-independence period. Interpretation in Indonesia experienced quite dynamic development in the pre-independence era, marked by interpretations that emerged from oral teaching to the publication of various interpretation books. This is due to the influence of pressure from social and political conditions that changed in each period and region. This article also highlights the role of scholars and intellectuals who tried to understand and convey the teachings of the Qur'an that were relevant to the socio-political realities of their time, often using the Qur'an as a tool for nationalist struggle. In this context, the interpretation of the Qur'an at that time was not only a theological endeavor but also a political and ideological instrument in the struggle for independence and justice. Penafsiran Al-Qur’an memiliki sejarah panjang yang sangat penting, yang erat kaitannya dengan konteks sosial, politik, dan budaya yang melingkupinya. Pada masa penjajahan di Indonesia, khususnya di bawah pemerintahan Belanda, penafsiran Al-Qur’an menghadapi berbagai tantangan yang dipengaruhi oleh lingkungan politik yang represif dan pembatasan kebebasan beragama. Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai pedoman ibadah, tetapi juga sebagai alat yang sangat penting dalam perlawanan terhadap penindasan kolonial dan pelestarian identitas Islam. Tulisan ini menguraikan penafsiran Al-Qur’an di Indonesia yang dibatasi pada masa pra-kemerdekaan Indonesia dari awal hingga akhir. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif dengan menjadikan penafsiran dari masa Pra-Kemerdekaan sebagai sumber utamanya, didukung dengan jurnal-jurnal dan buku sebagai sumber sekundernya.  Pendekatan sejarah digunakan pada penelitian ini yakni dengan menguraikan perkembangan  serta dinamika tafsir Indonesia dengan melihat dari sudut pandang sejarah pada masa pra-kemerdekaan awal hingga akhir. Penafsiran di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup dinamis pada era pra-kemerdekaan, ditandai dengan penafsiran yang muncul mulai dari pengajaran secara lisan sampai pada penerbitan berbagai kitab tafsir. Hal ini disebabkan adanya pengaruh dari tekanan keadaan sosial, politik yang berubah-ubah di setiap masa dan wilayahnya. Artikel ini juga menyoroti peran ulama dan intelektual yang berusaha memahami dan menyampaikan ajaran Al-Qur’an yang relevan dengan realitas sosial-politik pada zamannya, sering kali menggunakan Al-Qur’an sebagai alat perjuangan nasionalisme. Dalam konteks ini, penafsiran Al-Qur’an pada masa tersebut tidak hanya menjadi usaha teologis, tetapi juga instrumen politik dan ideologis dalam perjuangan untuk kemerdekaan dan keadilan