Makhfiroh, Siti
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TERHADAP SIKAP DALAM PENCEGAHAN DEMAM BERDARAH  DENGUE DI PUSKESMAS SUKATANI TAHUN 2024 Makhfiroh, Siti; Vebrian, Garry
Jurnal Nusantara Madani Vol 4 No 1 (2025): Jurnal Nusantara Madani
Publisher : Jurnal Nusantara Mandani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.1200/0e2tf995

Abstract

Pendahuluan: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius di Indonesia dan wilayah tropis lainnya. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang menyebar cepat di lingkungan padat penduduk dengan sanitasi yang buruk (Yuniati & Syafitri, 2023). Faktor pengetahuan dan sikap masyarakat berperan penting dalam upaya pencegahan DBD. Pemahaman yang baik terhadap gejala, cara penularan, dan langkah pencegahan akan meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pencegahan DBD di wilayah kerja Puskesmas Sukatani tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 109 responden yang diambil dengan teknik random sampling. Data diperoleh melalui kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square (Sugiyono, 2020). Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap pencegahan DBD dengan nilai p = 0.000 (p < 0.05). Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin positif pula sikapnya terhadap upaya pencegahan penyakit (Hasdiana, 2018). Kesimpulan: Peningkatan edukasi kesehatan masyarakat melalui penyuluhan dan promosi kesehatan berperan penting dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat. Program pencegahan berbasis masyarakat diperlukan untuk menekan angka kejadian DBD secara berkelanjutan (WHO, 2015).