p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Multikultura
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ESTETISASI KONTEN <em>SUGAR DATING</em> DAN SEKSUAL DI TIKTOK SELAMA PANDEMI COVID-19 Nisa, Azkiya
Multikultura Vol. 4, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemunculan internet merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Hal tersebut menimbulkan peningkatan terhadap penggunaan media sosial dan penyebaran berbagai konten pada masa pandemi Covid-19, dua di antaranya adalah konten sugar dating dan seksual. Kalangan sugar baby aktif membagikan kegiatan atau pendapatan dari pekerjaan yang dilakukan khususnya pada masa krisis perekonomian saat ini dan narasi, simbol, istilah-istilah terkait seks juga diekspos oleh para pengguna TikTok. Pembicaraan yang dianggap tabu dan memiliki citra negatif sehingga jarang diangkat oleh masyarakat kemudian banyak diunggah. Unggahan tersebut disertai dengan suntingan video yang unik dan melibatkan usur-unsur seperti filter, background, dan backsound yang meminimalisir kesan vulgar. Tidak sedikit respon yang netral atau positif terhadap unggahan konten tersebut dan beberapa di antaranya menunjukkan ketertarikan untuk mendapatkan maupun berbagi informasi. Penelitian terdahulu terkait dengan konsumsi TikTok pada masa pandemi (Kennedy, 2020) telah membahas peningkatan visibiltas TikTok dan selebriti d’Amelio pada masa pandemi yang mempertahankan budaya selebriti perempuan muda. Penelitian terdahulu tentang sugar dating (DeSoto, 2018) terbatas pada produksi budaya pada kalangan mahasiswa dan situs kencan, sedangkan penelitian lainnya (Bleakley, 2008) juga membahas peningkatan komunikasi terkait seks di media sosial yang dapat menyebabkan kognisi seksual. Berdasarkan kasus dan penelitian terdahulu, artikel ini bertujuan untuk menjabarkan bagaimana identitas sugar baby dikonstruksi, perkembangan kalangan sugar baby, negosiasi identitas, dan penerimaan oleh orang-orang di TikTok. Selain itu, penelitian ini juga memaparkan TikTok sebagai media ekspresi kebebasan tubuh dalam mengeksplorasi kenikmatan-kenikmatan intim. Dengan kata lain, penelitian berfokus pada konten sugar dating dan seksual yang diestetisasi melalui TikTok pada masa pandemi. Korpus yang digunakan dalam penelitian berupa kompilasi beberapa video sugar dating dan seksual pada masa pandemi di TikTok. Metode penelitian adalah kualitatif dan analisis wacana kritis. Konsep Walter Benjamin tentang estetisasi karya seni, Seksualitas dan Tubuh oleh Michel Foucault juga digunakan.
ILUSI KEMISKINAN DAN HIPERREALITAS DALAM FILM <i>POURRIS GÂTÉS</i> (2021) Safitri, Felisya Dara; Nisa, Azkiya
Multikultura Vol. 4, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the representation of the bourgeois class in the film Pourris Gâtés (2021) by Nicolas Cuche through the theoretical lens of Jean Baudrillard’s concept of hyperreality and Fredric Jameson’s notion of pastiche. The research problem focuses on how Pourris Gâtés depicts the simulated social transformation of the bourgeois class through the illusion of consumerism and hyperreality. The study employs film discourse analysis using both narrative and visual approaches, grounded in media ideology theory, hyperreality, and the consumption of signs. The findings indicate that the main characters undergo a symbolic transformation rather than a structural change. Their identities are constructed through the consumption of luxury goods and social relations that function as status symbols, rather than through labor or authentic experiences. Poverty is aesthetically represented as a moment of learning rather than as an oppressive structural reality. The jobs taken on by the main characters serve as educational stages that remain under the control of privilege. In this way, Pourris Gâtés demonstrates how the bourgeois class sustains itself through a narrative of hyperreality framed within a moralistic aesthetic.