Pendidikan memiliki peran strategis dalam menciptakan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kemampuan menghadapi tantangan zaman. Salah satu upaya penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah melalui penguatan kemandirian belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Dalam konteks pendidikan inklusif, dinamika lingkungan sekolah baik dari sisi fisik, sosial, maupun akademik menjadi faktor penting yang turut membentuk kemandirian belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana elemen-elemen lingkungan sekolah dapat menjadi faktor pendukung dalam membentuk kemandirian belajar IPS siswa kelas VIII di SMP Muhammadiyah 18 Surabaya, serta mengidentifikasi hambatan dan strategi yang digunakan dalam proses tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan lokasi penelitian di SMP Muhammadiyah 18 Surabaya. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, penyebaran angket, dan dokumentasi. Informan dipilih menggunakan teknik purposive sampling, melibatkan siswa kelas VIII, guru, serta pihak sekolah. Analisis data mengacu pada teori ekologi Bronfenbrenner yang menekankan pada interaksi antar sistem lingkungan dalam memengaruhi perkembangan individu. Penelitian ini mengkaji bagaimana elemen-elemen lingkungan sekolah saling berinteraksi dalam mendorong perilaku belajar mandiri siswa, khususnya dalam pembelajaran IPS yang berlangsung dalam suasana kelas inklusif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan fisik yang nyaman, interaksi sosial yang harmonis, dan pendekatan akademik yang fleksibel memberikan kontribusi besar dalam mendorong kemandirian belajar siswa. Hambatan yang muncul antara lain kurangnya adaptasi antar siswa, keterbatasan media pembelajaran interaktif, serta belum optimalnya metode pembelajaran aktif oleh guru. Strategi yang efektif meliputi penggunaan pembelajaran berbasis proyek, penerapan sistem moving class, pemanfaatan media digital interaktif, serta pelaksanaan pembelajaran luar kelas. Keseluruhan dinamika ini membuktikan bahwa lingkungan sekolah yang adaptif dan inklusif berperan penting dalam mengembangkan kemandirian belajar siswa secara berkelanjutan khususnya dalam pembelajaran IPS.