Perkembangan sosial emosional merupakan aspek penting dalam tumbuh kembang anak, terutama pada anak tunarungu yang mengalami keterbatasan komunikasi sehingga berpotensi memengaruhi kemampuan adaptasi sosial dan pengendalian emosi. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan perkembangan sosial emosional anak tunarungu di Pondok Pesantren Darul Ashom Sleman Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain deskriptif, melibatkan 40 anak tunarungu usia 10–15 tahun yang diambil dengan teknik total sampling. Instrumen penelitian menggunakan The Pediatric Symptom Checklist-17 (PSC-17), dengan pengumpulan data dilakukan melalui pendampingan menggunakan bahasa isyarat dan penjelasan sederhana. Data dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 10–11 tahun dan telah tinggal di pondok selama tiga tahun. Pada aspek sosial, sebagian besar anak mampu berinteraksi dengan teman sebaya, namun masih ditemukan perilaku kurang adaptif seperti kesulitan mematuhi aturan, berbagi, dan memahami perasaan orang lain. Pada aspek emosional, sebagian besar anak tidak mengalami perasaan sedih dan putus asa, tetapi sebagian anak masih menunjukkan rendahnya rasa percaya diri, kecemasan, kegelisahan, serta kesulitan berkonsentrasi dan mudah teralihkan. Dapat disimpulkan bahwa perkembangan sosial emosional anak tunarungu di Pondok Pesantren Darul Ashom berada pada kondisi cukup baik, namun masih memerlukan dukungan melalui strategi pembelajaran yang adaptif dan inklusif untuk mengoptimalkan keterampilan sosial, pengendalian emosi, dan fokus belajar.