AbstractThe digital era 5.0 brings complex challenges to Christian youth faith formation, as 91.8% of Indonesian Christian adolescents remain involved in religious activities, yet worship consistency declines, with 7.7% to 13.7% no longer worshiping regularly. This study explores how parents and churches can work synergistically to strengthen youth faith amid digital technology pressures, secular lifestyles, and emerging ideologies that weaken Christian values. Using qualitative methods with a literature-study approach, the research evaluates theological sources and church documents through a theological-pedagogical framework that integrates Christian faith principles with contemporary educational theory. Findings indicate that spiritual decline is driven by digital dependence, social isolation, and an imbalance between spiritual and material pursuits. The proposed synergy model emphasizes structured family-based discipleship, technology-supported church mentoring, and collaborative monitoring platforms. Ultimately, this research offers an integrative framework that reimagines traditional faith formation for Society 5.0, transforming technology from a threat into a strategic tool for spiritual development. AbstrakEra digital 5.0 menghadirkan tantangan kompleks bagi pembentukan iman remaja Kristen. Meskipun 91,8% remaja Kristen Indonesia masih aktif dalam kegiatan keagamaan, intensitas ibadah mengalami penurunan, dengan 7,7% hingga 13,7% tidak lagi beribadah secara teratur. Penelitian ini mengkaji bagaimana sinergi antara orang tua dan gereja dapat memperkuat pembentukan iman remaja di tengah tekanan teknologi digital, gaya hidup sekuler, dan ideologi alternatif yang melemahkan nilai-nilai Kristiani. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui studi literatur, penelitian ini menganalisis sumber-sumber teologis dan dokumen gerejawi melalui kerangka teologis-pedagogis yang mengintegrasikan prinsip iman Kristen dengan teori pendidikan kontemporer. Temuan menunjukkan bahwa penurunan spiritual dipengaruhi oleh ketergantungan digital, isolasi sosial, dan ketidakseimbangan antara kebutuhan rohani dan material. Model sinergi yang diusulkan mencakup pendampingan rohani berbasis keluarga, program mentoring gereja yang terintegrasi teknologi, serta platform pemantauan berkelanjutan. Penelitian ini menawarkan kerangka integratif yang mengadaptasi paradigma pembentukan iman menuju model Society 5.0, menjadikan teknologi bukan ancaman, tetapi alat strategis bagi penguatan iman.