The concept of the triplex munus, Christ as prophet, priest, and king, has been a dominant paradigm since the Reformation through the thought of John Calvin. The changing landscape of the church has prompted a reconsideration of its relevance. Jürgen Moltmann and John C. Nugent have suggested expanding it to a quadruplex munus by adding friend and servant, but this article critiques this approach for its tendency to reinforce the framework of tradition and shift attention from spiritual depth to a purely social orientation. Based on qualitative methods and an intertheological synthesis of classical and contemporary sources, this study proposes a transformative triplex munus that maintains the classical structure while enriching its meaning through two inter-office dimensions: relational (friend) and actional (servant). The results show that the transformative triplex munus maintains doctrinal continuity while encouraging participatory, egalitarian, and context-sensitive church praxis without the addition of a fourth office. The relational dimension guides liberating proclamation, while the actional dimension directs priesthood and kingship as concrete services to many. This framework provides operational guidelines for contemporary church proclamation, reconciliation, and leadership. AbstrakKonsep munus triplex, yakni Kristus sebagai nabi, imam, dan raja, telah menjadi paradigma dominan sejak Reformasi melalui pemikiran Yohanes Calvin. Perubahan lanskap gereja mendorong peninjauan ulang relevansinya. Jürgen Moltmann dan John C. Nugent mengusulkan perluasan menjadi munus quadruplex dengan menambahkan sahabat dan pelayan, namun artikel ini mengkritisi pendekatan tersebut karena berisiko mengaburkan kerangka tradisi dan menggeser perhatian dari kedalaman spiritual ke orientasi sosial semata. Berbasis metode kualitatif melalui sintesis interteologis atas sumber klasik dan kontemporer, penelitian ini menawarkan munus triplex transformatif yang mempertahankan struktur klasik sekaligus memperkaya makna melalui dua dimensi lintas jabatan: relasional (sahabat) dan aksional (pelayan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa munus triplex transformatif mampu menjaga kesinambungan doktrinal sambil mendorong praksis gereja yang partisipatif, egaliter, dan peka konteks tanpa penambahan jabatan keempat. Dimensi relasional menuntun pewartaan yang membebaskan, sedangkan dimensi aksional mengarahkan keimaman dan kerajaan sebagai pelayanan yang nyata bagi banyak orang. Kerangka ini memberi pedoman operasional bagi pewartaan, pendamaian, dan kepemimpinan gereja kontemporer.