Mahasiswa rantau dituntut untuk mengelola keuangan mereka secara mandiri guna memastikan kebutuhan sehari-hari terpenuhi selama studi. Transisi ke lingkungan baru seringkali menimbulkan tantangan finansial, terutama ketika mahasiswa harus menyesuaikan pengeluaran mereka dengan uang saku yang terbatas dan tuntutan gaya hidup yang berubah. Studi ini bertujuan untuk menganalisis pola perilaku keuangan mahasiswa internasional, dengan fokus pada prioritas keuangan, pengendalian konsumsi, dan manajemen pengeluaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Populasi terdiri dari mahasiswa internasional di Surabaya, dengan 32 responden dari Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya yang dipilih melalui purposive sampling karena keterbatasan akses institusional. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert yang tervalidasi dan reliabel, dan dianalisis secara deskriptif menggunakan JASP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa internasional umumnya menunjukkan perilaku keuangan yang cukup baik (rata-rata keseluruhan = 3,193). Manajemen pengeluaran menunjukkan skor tertinggi (3,47), diikuti oleh prioritas keuangan (3,34), sedangkan pengendalian konsumsi relatif lebih lemah (2,77). Meskipun sebagian besar mahasiswa mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan dan cenderung membandingkan harga sebelum membeli, inkonsistensi tetap ada dalam kebiasaan menabung, pencatatan pengeluaran, dan stabilitas keuangan akhir bulan. Pengaruh sosial dari teman sebaya dan tekanan konsumtif juga berkontribusi pada pengeluaran tambahan, meskipun mahasiswa memiliki pengendalian diri yang relatif baik. Selain itu, minat terhadap pekerjaan paruh waktu masih rendah, sehingga menyebabkan ketergantungan berkelanjutan pada dukungan keluarga. Temuan ini menyoroti perlunya memperkuat literasi keuangan dan disiplin perilaku untuk mendukung kemandirian finansial yang berkelanjutan di kalangan mahasiswa rantau.