Perubahan tata guna lahan (land use/land cover, LULC) dan peningkatan curah hujan ekstrem akibat variabilitas iklimmerupakan kombinasi utama yang meningkatkan risiko banjir di daerah aliran sungai (DAS) tropis. Studi ini dilakukan pada DAS Molibagu, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Sulawesi Utara, yang memiliki topografi bergelombang dan tingkat urbanisasi yang terus meningkat. Tujuan penelitian adalah menganalisis dampak perubahan LULC dan hujan rencana terhadap respon hidrologi dan debit puncak banjir menggunakan model HEC-HMS dengan metode Soil Conservation Service Curve Number (SCS-CN). Data curah hujan, penggunaan lahan, dan jenis tanah tahun 2011 dan 2020 digunakan untuk simulasi, yang dikalibrasi menggunakan data observasi debit sungai. Hasil kalibrasi menunjukkan kinerja model yang baik dengan nilai NSE sebesar 0,812 (2011) dan 0,694 (2020), RMSE masing-masing 0,434 dan 0,553, serta PBIAS 26,46% dan 51,16%. Hasil simulasi memperlihatkan peningkatan debit puncak dari 93,08 m³/s menjadi 113,57 m³/s (kenaikan ±22%), dengan kontribusi peningkatan curah hujan sebesar ±80% dan perubahan LULC sebesar ±20%. Peningkatan nilai Curve Number (42,04 menjadi 42,20) dan koefisien limpasan C (0,412 menjadi 0,415) menunjukkan berkurangnya kapasitas infiltrasi akibat bertambahnya area terbangun. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kombinasi peningkatan intensitas hujan dan perubahan penggunaan lahan berperan penting dalam memperbesar debit puncak dan potensi banjir di DAS Molibagu, serta menjadi dasar ilmiah bagi perencanaan tata ruang dan pengelolaan konservasi DAS secara terpadu di wilayah tropis yang rentan.