Studi kualitatif fenomenologis ini menganalisis strategi komunikasi dalam penyebaran life style Frugal Living di Wonosobo, yang memiliki life style frugal living juga di kenal dengan gaya hidup menabung dan berbelanja secara bijaksana. Namun karena orang memiliki kebutuhan dan gaya hidup yang berbeda, mereka seringkali kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Hal ini menimbulakan berbagai macam masalah rumit dalam kehidupan, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara hidup Frugal living sebagai Lifestyle sehingga konsep ini menjadi alternatuf bagi masyarakat kelas menengah bawah untuk bertahan hidup dengan menekan pengeluara yang minimal dengan pendapatan terbatas. Melalui wawancara mendalam dengan 10 informan sesuai kriteria dan analisis tematik Miles-Huberman, tiga temuan utama ditemukan: Pertama, hidup hemat bukan sekadar pratik ekonomi, melainkan hasil dari komunikasi yang didasarkan pada jaringan hubungan kuat, yang diturunkan melalui: (a) Peniru antar generasi dalam keluarga, (b) diskusi komunitas dalam kegiatan sosial, dan (c) media sosial untuk berbagi teknik berhemat. Kedua strategi ini menciptakan dilema sosial ketika prinsip menabung secara ekstrem bertentangan dengan norma komunitas, memicu stereotip “kikir” saat menolak berpartisipasi dalam acara sosial, seperti yang dicermin dalam 70% kasus konflik yang dilaporkan. Ketiga, komunitas menginterpretasikan Frugal Living sebagai keseimbangan dinamis antara kesadaran finansial (investasi aset, pendidikan anak) dan komitmen sosial, dengan 10 informan menekankan pentingnya“kedermawanan strategis” untuk mempertahankan kohesi komunitas. Temuan ini membantah asumsi asumsi bahwa frugal living hanyalah tren perkotaan, dan menegaskan bahwa hal itu merupakan mekanisme ketahanan ekonomi berdasarkan komunitas budaya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah yaitu beberapa orang beranggapan bahwa melakukan gaya hidup frugal living yang secara berlebihan itu tidak dianjurkan, lebih baik sedang-sedang atau biasa saja.