Penelitian ini membahas fenomena al-dakhīl yaitu masuknya unsur-unsur asing dan riwayat yang tidak sahih dalam penafsiran surah al-Baqarah ayat 36 sebagaimana terdapat dalam Tafsir al-Ṭabarī. Ayat ini mengisahkan tentang kejatuhan Adam dan Hawa dari surga akibat godaan setan, dan sering kali dijelaskan melalui narasi yang dipengaruhi oleh tradisi Isrā’īliyyāt dan riwayat gharīb. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis isi (content analysis), penelitian ini mengkaji riwayat-riwayat yang dinukil oleh al-Ṭabarī, mengevaluasi sanad dan matannya, serta mengidentifikasi kemungkinan pengaruh narasi non-Islami dalam penyampaian tafsir. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian riwayat dalam tafsir tersebut mengandung unsur al-dakhīl yang berasal dari tradisi Yahudi-Kristen dan kisah-kisah populer yang tidak dapat diverifikasi kesahihannya. Temuan ini menunjukkan pentingnya kritik terhadap sumber-sumber tafsir klasik untuk menjaga kemurnian makna al-Qur'an serta mendorong metode penafsiran yang lebih selektif dan berbasis validasi ilmiah terhadap riwayat. Penilaian terhadap unsur al-dakhīl dalam penelitian ini tidak didasarkan semata pada karakter “asing” atau “fantastik” suatu narasi, melainkan melalui kriteria ilmiah yang terukur. Kriteria tersebut meliputi (1) ketidaksesuaian sanad dengan kaidah keilmuan hadis (terdapat perawi majhūl, munqathi’, atau matrūk), (2) pertentangan matan dengan prinsip-prinsip akidah dan nash sahih, serta (3) adanya indikasi transfer naratif dari tradisi Yahudi-Kristen yang dapat dilacak secara tekstual melalui literatur Perjanjian Lama. Dengan demikian, pendekatan yang digunakan bersifat analitis dan kritis, menggabungkan metode klasik ilmu riwayat dengan pendekatan hermeneutik kontemporer yang menekankan validasi epistemologis dalam tafsir.