Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dan NSSI pada individu yang memiliki pengalaman buruk masa kecil serta pernah melakukan tindakan menyakiti diri tanpa niat bunuh diri. Penelitian ini menggunakan desain korelasional. Partisipan berjumlah 50 orang yang memenuhi kriteria pengalaman trauma masa kecil dan riwayat setidaknya satu kali melakukan NSSI, diperoleh melalui teknik accidental sampling. Instrumen yang digunakan meliputi The Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) – Adult Version untuk mengukur tingkat self-esteem, serta Inventory of Statements About Self-Injury (ISAS) untuk mengukur kecenderungan NSSI. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan negatif dan signifikan antara self-esteem dan NSSI (r = –0.281; p < 0.05). Temuan tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi self-esteem yang dimiliki individu, maka semakin rendah kecenderungan melakukan NSSI, khususnya pada individu dengan riwayat trauma masa kecil. Self-esteem memiliki peran penting dalam membantu individu menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan situasi serta lingkungan baru, sekaligus memfasilitasi penggunaan strategi coping yang adaptif dalam menghadapi permasalahan. Individu dengan self-esteem yang lebih baik cenderung mampu mengelola emosi secara efektif, sedangkan self-esteem yang rendah sering dikaitkan dengan munculnya perilaku maladaptif seperti nonsuicidal self-injury (NSSI). Implikasi penelitian ini memperkuat bukti empiris bahwa self-esteem berperan sebagai faktor protektif terhadap perilaku menyakiti diri tanpa niat bunuh diri. Selain itu, hasil ini menegaskan pentingnya intervensi psikologis yang berfokus pada penguatan self-esteem untuk meminimalkan risiko NSSI pada populasi dengan pengalaman traumatis. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mempertimbangkan variabel psikologis lain yang berpotensi berperan sebagai mediator atau moderator dalam hubungan tersebut.