Penelitian ini berangkat dari isu krusial dalam upaya penjaminan mutu pendidikan di Kabupaten Sijunjung, khususnya terkait dengan ketersediaan dan optimalisasi peran Pendamping Satuan Pendidikan (sebelumnya dikenal sebagai pengawas sekolah). Secara faktual, Kabupaten Sijunjung menghadapi defisit rasio pendamping yang signifikan, di mana beban kerja satu pendamping melampaui standar ideal, yakni harus membina rata-rata 14 Sekolah Dasar (SD). Disparitas antara beban kerja aktual dan standar ideal (maksimal 10 sekolah per pendamping) ini menimbulkan tantangan serius terhadap efektivitas proses supervisi, manajerial, dan akademik yang esensial bagi peningkatan mutu sekolah. Kondisi ini menuntut pendekatan kerja yang jauh lebih intensif, strategis, dan adaptif dari para pendamping guna memastikan bahwa kualitas pendidikan di wilayah Kecamatan IV Nagari tetap terjaga dan meningkat. Tujuan utama dari studi kasus ini adalah untuk menginvestigasi secara mendalam bagaimana implementasi pendampingan satuan pendidikan dijalankan, serta mengidentifikasi dampak nyata dari program pendampingan tersebut di Sekolah Dasar Kecamatan IV Nagari. Dengan mengadopsi pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, data dikumpulkan secara holistik dan mendalam melalui wawancara mendalam dengan pemangku kepentingan kunci, observasi non-partisipatif di lingkungan sekolah, dan studi dokumentasi program. Triangulasi teknik dan sumber diterapkan secara ketat untuk menjamin keabsahan dan reliabilitas temuan. Analisis data dilakukan secara induktif, melalui siklus pengumpulan data, reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan, untuk membangun pemahaman yang komprehensif dari konteks lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan sebuah temuan signifikan: meskipun dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia, implementasi pendampingan satuan pendidikan telah terlaksana dengan baik dan terstruktur. Pelaksanaannya meliputi empat tahapan manajerial yang terintegrasi: Perencanaan Program yang cermat, Pelaksanaan Program yang terfokus, Evaluasi Keterlaksanaan untuk umpan balik, dan Pelaporan yang akuntabel. Lebih lanjut, dampak pendampingan ini bersifat multifaset dan positif, meliputi peningkatan kualitas manajemen sekolah secara keseluruhan, optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana yang tersedia, dan peningkatan signifikan dalam kompetensi profesional pendidik. Secara kolektif, temuan ini tidak hanya menegaskan keberhasilan upaya intensif pendamping, tetapi juga memberikan kontribusi penting dalam merumuskan model pendampingan yang efektif dan adaptif untuk penjaminan mutu pendidikan di daerah dengan keterbatasan sumber daya.