Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Bentuk dan Struktur Musik Lagu “110 Tahun Injil Masuk Toraja” dalam Festival Vokal Grup Gereja Toraja Sambira, Zefanya; Palimbong, Andriano Mario; Verjanti, Kris
Tonika: Jurnal Penelitian dan Pengkajian Seni Vol. 8 No. 2 (2025): Volume 8 Nomor 2 Tahun 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Abdiel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37368/tonika.v8i2.836

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis secara tekstual bentuk musik beserta strukturnya dari karya lagu “110 Tahun Injil Masuk Toraja”. Lagu ini dipilih sebagai objek penelitian karena selain memuat mengenai budaya Toraja dan ajaran Kristen, unsur musikal yang terdapat di dalamnya termasuk unik dan punya ciri khas tertentu. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggunakan perspektif musikologi sebagai acuan utama dalam penelitian ini. Subjek dan data utama penelitian ini adalah lagu “110 Tahun Injil Masuk Toraja”. Teori yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pemikiran Hugh M. Miller dan Karl Edmund Prier. Hasil penelitian ini menemukan bahwa terdapat enam unsur musik yang membentuk lagu tersebut antara lain unsur pertama, yaitu elemen waktu yang terdiri dari tempo, meter, dan ritme. Tempo yang digunakan adalah moderato dengan meter yaitu 4/4, sedangkan ritmenya terdiri dari enam pola yang masing-masing memiliki pola berbeda-beda. Unsur kedua yaitu melodi yang lebih banyak menggunakan not seperdelapan pada setiap birama lagu. Unsur ketiga yaitu harmoni menggunakan empat akor, yakni akor I, 1V, V, dan vi, baik posisi dasar ataupun balikan. Unsur keempat yaitu tonalitas menggunakan D Mayor, yang memiliki nada terendah sol (A3) dan nada tertinggi do (D5). Unsur kelima yaitu tekstur yang terdiri dari tiga jenis antara lain monofoni, homoritmik, dan polifoni. Unsur keenam yaitu dinamika dan ekspresi menggunakan decresendo dan staccato. Selain itu, struktur musik terdiri tiga bagian yaitu A, B, C dengan pengulangan pada bagiannya menjadi A-A’-B-B’-C-B-B’.
MA'BADONG IN THE ARENA OF BOURDIEU'S CULTURAL PRODUCTION Sambira, Zefanya; Palimbong, Andriano Mario; Rante Allo, Hasrat Dewi; Patalo, Jhesica
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 8, No 2 (2025): December 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v8i2.588

Abstract

Ma'badong is a communal lament sung in a circular formation at the Toraja tribe's death ceremony (Rambu Solo'), serving as an expression of grief. Ma'badong is conducted following the slaughter of a tedong (water buffalo) in a quantity corresponding with the social rank of the deceased. Ma'badong is considered not only a symbolic gesture but also an endeavor to preserve and promote Toraja culture. This study aims to examine the contextualization of Ma'badong from the perspective of cultural production and its implications on the development of church music in Toraja. This research is characterized as descriptive and qualitative. This study examines the art of Ma'badong as portrayed in the Rambu Solo’ ceremony in Toraja, particularly in the Gandangbatu Sillanan District of Tana Toraja Regency. The analysis of the issues in this study is grounded in Pierre Bourdieu's theory, which is The Field of Cultural Production theory. The results of this study indicate that Pa'badong representatives, serving as both agents and traditional musicians in church music services, generate cultural practices appreciated by the Toraja community and church congregation members. The habitus of the Toraja community (Ma'badong) is shaped and regulated by agents based on the capital they hold, which enables them to exert dominance in the field of Toraja art, encompassing church music as well. The field controlled by agents is classified as an elite or limited cultural sub-field. Ma'badong's implications for the development of church music in Toraja are the production of several ethnic-nuance congregational songs that incorporate its musical patterns and features. The incorporation of Ma'badong musical components has emerged as a significant characteristic of the Toraja Church, transforming congregational singing into a medium for expressing the local community's identity.