Livedo reticularis merupakan kelainan vaskular kulit yang ditandai dengan pola jaring berwarna kebiruan akibat perubahan aliran darah pada mikrosirkulasi dermis. Salah satu penyebab sekunder yang paling sering dilaporkan adalah penggunaan amantadin, obat antiparkinson dengan mekanisme antagonis reseptor NMDA. Efek ini penting dikenali, terutama pada populasi geriatri yang rentan terhadap efek samping obat. Tujuan laporan kasus ini untuk melaporkan kasus livedo reticularis pada pasien Parkinson usia lanjut yang menggunakan terapi amantadin, serta meninjau hubungan patofisiologi, karakteristik klinis, dan reversibilitas efek kulit tersebut. Laporan kasus observasional pada seorang wanita berusia 64 tahun dengan diagnosis Parkinson stadium 4 yang telah menggunakan amantadin 100 mg dua kali sehari selama ±4 tahun. Pasien menunjukkan lesi makular retikuler berwarna kebiruan pada kedua tungkai bawah, tanpa keluhan nyeri atau gatal. Tidak ditemukan tanda-tanda vaskulitis atau gangguan sensorik. Lesi diklasifikasikan sebagai livedo reticularis sekunder non-inflamasi yang disebabkan oleh amantadin. Berdasarkan literatur, onset livedo reticularis dapat muncul setelah beberapa minggu hingga beberapa tahun penggunaan, dan umumnya membaik setelah penghentian obat. Livedo reticularis merupakan efek samping kulit yang khas dan relatif sering terjadi akibat terapi amantadin pada pasien Parkinson. Kondisi ini bersifat jinak, reversibel, serta tidak memerlukan penghentian terapi apabila manfaat neurologis lebih besar daripada efek kosmetik yang ditimbulkan. Deteksi dini dan edukasi pasien sangat penting untuk memastikan keamanan penggunaan obat pada populasi geriatri.