Hasna, Hasna Fidelya
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Kurikulum berbasis Cinta dalam adat budaya baritan di Banjarsari Samigaluh Kulon Progo: Implementasi Kurikulum berbasis Cinta dalam adat budaya baritan di Banjarsari Samigaluh Kulon Progo Ismunandar, Ismunandar; Aska, Muhammad Aska Al Varo; Hasna, Hasna Fidelya
Indonesian Journal of Action Research Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijar.2025.41-03

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini berjudul: "Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dalam Adat Budaya Baritan di Kalurahan Banjarsari, Samigaluh, Kulon Progo". Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis konsep, mekanisme implementasi, serta relevansi nilai-nilai dalam tradisi Baritan sebagai bentuk kurikulum pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan karakter generasi muda di tengah arus modernisasi dengan menggali potensi kearifan lokal yang hidup di masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus etnografis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan para sesepuh, pinisepuh, tokoh masyarakat, dan pemuda, observasi partisipan dalam seluruh prosesi adat Baritan, serta studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian mengungkap bahwa: (1) Tradisi Baritan merupakan sebuah "kurikulum hidup" (living curriculum) yang mengonstruksi konsep "Cinta" dalam tiga dimensi, yaitu cinta kepada Tuhan (rasa syukur), cinta kepada alam (pelestarian lingkungan), dan cinta kepada sesama (gotong royong dan solidaritas). (2) Implementasi kurikulum ini berlangsung secara informal melalui tiga saluran pembelajaran: pengalaman langsung (experiential learning) dalam persiapan dan pelaksanaan ritual, keteladanan (modeling) dari para sesepuh, dan penuturan narasi (storytelling). (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam Kurikulum Berbasis Cinta Baritan memiliki relevansi yang sangat kuat dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, menjadikannya fondasi pendidikan karakter yang kontekstual dan holistik. (4) Tantangan utama yang dihadapi adalah perubahan orientasi nilai generasi muda dan desakralisasi makna ritual, yang diantisipasi dengan strategi seperti integrasi ke pendidikan formal dan pemanfaatan media digital. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa adat budaya Baritan tidak hanya sekadar ritual seremonial, tetapi berfungsi sebagai sebuah sistem pendidikan yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai cinta dan karakter luhur. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya pelestarian kearifan lokal dengan pendekatan yang adaptif, serta integrasinya ke dalam kerangka pendidikan nasional untuk memperkuat jati diri dan ketahanan budaya bangsa. Kata Kunci: Kurikulum Berbasis Cinta, Baritan, Kearifan Lokal, Pendidikan Karakter, Profil Pelajar Pancasila, Etnografi, Banjarsari.
Implementasi Kurikulum berbasis Cinta dalam Adat Budaya Baritan di Banjarsari Samigaluh Kulon Progo Ismunandar, Ismunandar; Aska, Muhammad Aska Al Varo; Hasna, Hasna Fidelya
Indonesian Journal of Action Research Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijar.2025.41-03

Abstract

ABSTRAK Tujuan - Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis konsep, mekanisme implementasi, serta relevansi nilai-nilai dalam tradisi Baritan sebagai bentuk kurikulum pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penguatan karakter generasi muda di tengah arus modernisasi dengan menggali potensi kearifan lokal yang hidup di masyarakat. Metode - Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus etnografis. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan para sesepuh, pinisepuh, tokoh masyarakat, dan pemuda, observasi partisipan dalam seluruh prosesi adat Baritan, serta studi dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil - Hasil penelitian mengungkap bahwa: (1) Tradisi Baritan merupakan sebuah "kurikulum hidup" (living curriculum) yang mengonstruksi konsep "Cinta" dalam tiga dimensi, yaitu cinta kepada Tuhan (rasa syukur), cinta kepada alam (pelestarian lingkungan), dan cinta kepada sesama (gotong royong dan solidaritas). (2) Implementasi kurikulum ini berlangsung secara informal melalui tiga saluran pembelajaran: pengalaman langsung (experiential learning) dalam persiapan dan pelaksanaan ritual, keteladanan (modeling) dari para sesepuh, dan penuturan narasi (storytelling). (3) Nilai-nilai yang terkandung dalam Kurikulum Berbasis Cinta Baritan memiliki relevansi yang sangat kuat dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila, menjadikannya fondasi pendidikan karakter yang kontekstual dan holistik. (4) Tantangan utama yang dihadapi adalah perubahan orientasi nilai generasi muda dan desakralisasi makna ritual, yang diantisipasi dengan strategi seperti integrasi ke pendidikan formal dan pemanfaatan media digital.