The background to this research problem is the condition of SMAN 1 Katingan Hulu, located in a remote area with limited access, where the community is predominantly gold mining workers. This results in underdeveloped farming skills, resulting in a heavy reliance on urban vegetable supplies. However, this situation is seen as an opportunity to introduce contextual learning about food security through the innovative "MERAKIT KETAPANG" program. This research focuses on the program's implementation as an effort to increase student engagement and strengthen their character competencies. Key stages of the research used descriptive qualitative methods with a case study approach, including observation, documentation, teacher reflection, and gathering feedback from students and parents. Key findings indicate that the program successfully increased student active participation and produced tangible products. Another key finding was a significant increase in student competency, with 80% reaching the proficient stage and 20% still in the developing stage. It is concluded that the MERAKIT KETAPANG program is effective as a contextual learning model relevant to local needs. ABSTRAKLatar belakang masalah penelitian ini adalah kondisi SMAN 1 Katingan Hulu yang terletak di wilayah pedalaman dengan akses terbatas, di mana masyarakatnya didominasi pekerja tambang emas. Hal ini menyebabkan keterampilan bercocok tanam belum berkembang, sehingga pemenuhan kebutuhan sayuran sangat bergantung pada pasokan dari kota. Namun, kondisi ini justru dilihat sebagai peluang untuk menghadirkan pembelajaran kontekstual tentang ketahanan pangan melalui program inovatif "MERAKIT KETAPANG". Penelitian ini berfokus pada implementasi program tersebut sebagai upaya meningkatkan keterlibatan siswa dan memperkuat kompetensi karakter mereka. Tahapan penting penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, yang meliputi observasi, dokumentasi, refleksi guru, serta pengumpulan umpan balik dari murid dan orang tua. Temuan utama menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan partisipasi aktif murid dan menghasilkan produk nyata. Temuan kunci lainnya adalah peningkatan kompetensi murid yang signifikan, dengan 80% mencapai tahap cakap dan 20% masih dalam tahap berkembang. Disimpulkan bahwa program MERAKIT KETAPANG efektif sebagai model pembelajaran kontekstual yang relevan dengan kebutuhan lokal.