The phenomenon of violence and intolerance among Indonesian youth, such as bullying, street brawls, and hate speech on social media, indicates a weakness in the internalization of peace values and social empathy. This study aims to examine the role of faith-based peace education as a strategy to prevent violence among youth. Using a qualitative approach, the research employs Focus Group Discussions (FGD) and interviews with interfaith youth and religious leaders to explore their understanding of peace and the role of religious values in social life. The findings indicate that the universal values of each religion, such as love, justice, tolerance, and compassion, have significant potential in shaping peaceful character and preventing radicalism. The FGDs reveal that interfaith activities, joint social work, and peace campaigns on digital media are effective strategies for fostering empathy and solidarity. Faith-based peace education not only strengthens the cognitive dimension but also shapes the affective domain and concrete actions of youth in resolving conflicts non-violently. This study emphasizes that integrating spiritual values into education and social activities can support the achievement of Sustainable Development Goal (SDG) 16, which aims to create peaceful, inclusive, and just societies. Keywords: religion, peace education, youth, violence prevention, tolerance. Abstrak Fenomena kekerasan dan intoleransi di kalangan pemuda Indonesia, seperti perundungan, tawuran, dan ujaran kebencian di media sosial, menunjukkan lemahnya internalisasi nilai-nilai perdamaian dan empati sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pendidikan perdamaian berbasis nilai agama sebagai strategi pencegahan kekerasan di kalangan pemuda. Melalui pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan wawancara terhadap pemuda lintas agama serta tokoh keagamaan untuk menggali pemahaman mereka tentang perdamaian dan peran nilai agama dalam kehidupan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai universal dari setiap agama seperti kasih sayang, keadilan, toleransi, dan welas asih memiliki potensi besar dalam membentuk karakter damai dan mencegah radikalisme. FGD mengungkap bahwa kegiatan lintas iman, kerja sosial bersama, dan kampanye perdamaian di media digital menjadi strategi efektif dalam menumbuhkan empati dan solidaritas. Pendidikan perdamaian berbasis nilai agama tidak hanya memperkuat dimensi kognitif, tetapi juga membentuk ranah afektif dan tindakan nyata pemuda dalam menyelesaikan konflik secara non-kekerasan. Penelitian ini menegaskan bahwa pengintegrasian nilai-nilai spiritual dalam pendidikan dan kegiatan sosial mampu mendukung tercapainya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-16, yaitu menciptakan masyarakat damai, inklusif, dan berkeadilan. Kata kunci: agama, pendidikan perdamaian, pemuda, pencegahan kekerasan, toleransi.