Nurhidayati
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Patofisiologi Trigger Finger pada PenderitaCarpal Tunnel Syndrome dan Diabetes Melitus Atina Rizki Putri; Nurhidayati; Made Raditya Arhya Putra; I Made Tobias Abdiman; Saskia Safarinaa Hazaa; Illiyani Sholihatin; Yusril Sani Riandika Putra; Gintis Dhimar Ginuluh; Safira Said Hayaza; Ekawaty Retnaningsih; Sabila Izzatina Azmy Mujahid
PrimA: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 10 No. 1 (2024): PrimA: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan
Publisher : LPPM STIKES Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47506/drrybz75

Abstract

Introduction: Trigger finger or stenosis tenosynovitis is a nodule-like swelling of the flexor muscle tendon in the metacarpophalangeal region that can be triggered by repetitive motion or comorbid diseases such as diabetes mellitus and carpal tunnel syndrome. Objective: To review the knowledge of trigger finger, especially those caused by DM and CTS in relation to its etiology, pathophysiology, clinical manifestations, and management. Methods: The author conducts a literature search for relevant articles about trigger finger, expeciali its related DM and CTS by determining literature sources in the form of official books, national and international journals published until January 2019. This research literature search was conducted through Google Scholar, Medline (PubMed), NCBI, sciencedirect and trusted journal publishers. Results: It was found that the annual incidence of trigger finger reached 28 cases per 100,000 and the prevalence reached 2.6% in the general population. The sufferers are in the age range of 50-84 years and predominantly occur on the right hand (60% of cases). Several studies describe the percentage of success of several trigger finger management methods, for example, the corticosteroid injection method has a success rate of 67%-90%, subcutaneous surgery with a success rate of 73.8%-100%. Conclusion: Trigger finger is a condition of swelling of the metacarpophalangeal flexor tendon that can be caused by several comorbid diseases, such as diabetes mellitus and carpal tunnel syndrome. Until now, several treatments that can be given are pharmacological therapy or non-pharmacological therapy.  
Terapi Farmakologi Profilaksis Tuberkulosis Chairatun Hisyani Putri; B. Novia Rahmadita Sutanti; Muhammad Iqbal Farrobi; Baiq Irzana Putri Alamanda; I Gede Eka Surya Buana; Eti Agustiani; Nurhidayati; Siti Rahmatul Aini
PrimA: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 2 (2025): PrimA: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan
Publisher : LPPM STIKES Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47506/nsjzvm56

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, khususnya di negara berkembang, termasuk Indonesia. Upaya pencegahan melalui terapi farmakologi profilaksis pada individu berisiko, seperti kontak serumah pasien TB dan penderita infeksi TB laten, berperan penting dalam menekan angka kejadian TB aktif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau terapi farmakologi yang digunakan sebagai profilaksis tuberkulosis berdasarkan bukti ilmiah yang tersedia. Metode: Penelitian ini merupakan literature review dengan penelusuran artikel dari jurnal nasional dan internasional melalui database Google Scholar dan PubMed. Penelusuran dilakukan menggunakan kata kunci terkait tuberkulosis, profilaksis, isoniazid, dan rifapentin. Artikel dibatasi pada publikasi sepuluh tahun terakhir dan diseleksi berdasarkan kesesuaian judul, abstrak, serta isi artikel dengan tujuan penelitian. Artikel terpilih dianalisis secara sistematis melalui tahap pengumpulan data, evaluasi isi, dan sintesis hasil penelitian. Hasil: Hasil kajian menunjukkan bahwa isoniazid dan rifapentin merupakan obat yang efektif sebagai terapi profilaksis tuberkulosis. Regimen kombinasi isoniazid dan rifapentin selama tiga bulan menunjukkan efektivitas yang sebanding dengan terapi isoniazid tunggal selama sembilan bulan, dengan tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dan risiko efek samping, khususnya hepatotoksisitas, yang lebih rendah. Kesimpulan: Terapi profilaksis tuberkulosis menggunakan kombinasi isoniazid dan rifapentin efektif dalam mencegah perkembangan TB aktif serta lebih direkomendasikan dibandingkan terapi tunggal isoniazid.