Penelitian ini menganalisis praktik awal keuangan berkelanjutan pada Bank Sulselbar Cabang Maros sebagai cabang bank pembangunan daerah yang beroperasi dalam ekosistem ekonomi lokal. Isu ini penting karena praktik keberlanjutan pada tingkat cabang sering tidak terlihat dalam pelaporan keberlanjutan formal, padahal cabang menjadi penghubung langsung bank dengan pemerintah daerah, aparatur sipil negara, UMKM, dan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Data utama diperoleh dari laporan wawancara lapangan tahun 2025, sedangkan data sekunder berasal dari regulasi keuangan dan literatur ilmiah tentang green banking, ESG, inklusi keuangan digital, dan tata kelola risiko perbankan. Data dianalisis secara tematik melalui empat dimensi, yaitu produk keuangan hijau, digitalisasi layanan, pembiayaan sektor produktif, dan tata kelola risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keuangan berkelanjutan pada cabang masih berada pada tahap inisiasi, yang tercermin pada pengembangan tabungan hijau, pembiayaan ramah lingkungan percontohan, mobile banking, integrasi QRIS dan e-wallet, kredit UMKM, serta penilaian risiko berbasis KYC, AML, SLIK, dan 5C. Penelitian menyimpulkan bahwa praktik cabang dapat mendukung keuangan berkelanjutan apabila diperkuat melalui dokumentasi, pemetaan portofolio, dan indikator risiko lingkungan-sosial. This study examines early sustainable finance practices at Bank Sulselbar Maros Branch as a regional development bank branch embedded in a local economic ecosystem. The issue is important because branch-level sustainable finance practices are often less visible in formal sustainability reporting, even though branches connect banks directly with local governments, civil servants, MSMEs, and communities. The research uses a descriptive qualitative approach with a case study design. Primary data were obtained from a 2025 field interview report, while secondary data came from financial regulations and scholarly literature on green banking, ESG, digital financial inclusion, and banking risk governance. The data were analysed thematically through four dimensions: green financial products, service digitalisation, productive-sector financing, and risk governance. The findings show that sustainable finance at the branch remains at an initiation stage, reflected in green savings development, pilot environmentally friendly financing, mobile banking, QRIS and e-wallet integration, credit provision for MSMEs, and KYC, AML, SLIK, and 5C-based risk assessment. The study concludes that branch practices can support sustainable finance when strengthened through documentation, portfolio mapping, and environmental-social risk indicators.