Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Lembut dalam Sikap, Damai dalam Ucapan: Refleksi Pendidikan Islam dalam Q.S. Al-Furqan Ayat 63 Nurul Nisa Selian; Sarwadi Sulisno
An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education Vol 1 No 04 (2025): An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education
Publisher : An-Nuriyah: Journal Of Islamic Technology And Informatics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ayat ini menegaskan pentingnya kelembutan dan kedamaian dalam perilaku seorang hamba Allah yang sejati. Q.S. Al-Furqan ayat 63 menggambarkan karakter pendidik dan peserta didik ideal dalam Islam, yaitu mereka yang berperilaku santun, rendah hati, serta mampu merespons ketidaksopanan dengan ucapan yang menenangkan. Penelitian ini bertujuan untuk menafsirkan nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung dalam ayat tersebut dan relevansinya terhadap pembentukan karakter peserta didik di era modern. Dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i) dan analisis nilai tarbawiyah, ditemukan tiga prinsip utama dalam ayat ini: (1) sikap lembut sebagai bentuk kebijaksanaan emosional, (2) tutur kata damai sebagai sarana pendidikan moral, dan (3) ketenangan dalam menghadapi konflik sebagai tanda kedewasaan spiritual. Nilai-nilai ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan model pendidikan Islam yang menekankan kasih sayang, keadaban, dan keseimbangan diri.
Internalisasi Nilai Tauhid dan Etika Birrul Walidain dalam Pendidikan Karakter Anak: Studi Tafsir Maudhu’i Q.S. Luqman Ayat 13–14 Suyati Suyati; Sarwadi Sulisno
IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam Vol 1 No 03 (2025): IMANU: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam
Publisher : Imanu: Jurnal Hukum dan Peradaban Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai tauhid dan etika birrul walidain dalam Q.S. Luqman ayat 13–14 serta relevansinya terhadap pendidikan karakter anak. Nilai tauhid dan penghormatan kepada orang tua merupakan dua aspek fundamental dalam pembentukan kepribadian Islami yang kokoh, sebagaimana digambarkan dalam nasihat Luqman kepada putranya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan tafsir maudhu’i (tematik) dengan mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan tema tauhid dan birrul walidain, serta menelaah penafsiran para ulama klasik maupun kontemporer seperti Ibn Katsir, Al-Maraghi, dan Quraish Shihab. Analisis dilakukan dengan cara menafsirkan teks ayat, mengaitkan makna kontekstualnya dengan nilai-nilai pendidikan karakter, dan mengidentifikasi implikasi pedagogisnya terhadap pembentukan akhlak anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tauhid dalam Q.S. Luqman ayat 13 menegaskan pentingnya pengesaan Allah sebagai landasan utama pendidikan karakter, yang membentuk kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral anak. Sementara itu, nilai birrul walidain pada ayat 14 menekankan penghargaan, kasih sayang, dan ketaatan terhadap orang tua sebagai wujud aktualisasi moral sosial. Kedua nilai ini saling melengkapi dalam membentuk karakter anak yang beriman, berbakti, dan berakhlak mulia. Kesimpulannya, internalisasi nilai tauhid dan birrul walidain dapat dijadikan model pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an yang menekankan keseimbangan antara hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan sesama manusia, khususnya orang tua).
Menuntut Ilmu dalam Perspektif Al-Qur’an dan Hadits: Telaah terhadap Surah Al-‘Alaq Ayat 1–5 dan Hadis Riwayat Al-Baihaqi Zainab Zainab; Sarwadi Sulisno
Jurnal Al-Hudaya : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan Vol 1 No 04 (2025): Al Hudaya: Jurnal Ilmu Al Quran dan Pendidikan
Publisher : Al-Hudaya: Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini mengkaji motivasi menuntut ilmu melalui perspektif Al-Qur’an dan hadits, dengan penekanan pada Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi. Latar belakang kajian ini didasarkan pada fenomena penurunan motivasi belajar yang signifikan dalam praktik pendidikan, di mana proses belajar cenderung berfokus pada kepentingan praktis seperti nilai, gelar, dan kewajiban administratif, sehingga mengabaikan dimensi spiritual dan tujuan transendental pendidikan Islam Penelitian ini menerapkan metode kepustakaan dengan cara mengumpulkan data melalui dokumentasi dari sumber-sumber primer dan sekunder yang berkaitan, seperti Al-Qur’an, hadits dan literatur terkait pendidikan Islam. Temuan studi menunjukkan bahwa Al-Qur’an dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 menegaskan pengetahuan sebagai dasar utama pembentukan individu yang beriman, berpikir, dan beradab. Perintah iqra’ mencerminkan kewajiban belajar yang meliputi membaca, menganalisis, berpikir kritis, dan menulis, serta menegaskan bahwa segala ilmu berasal dari Allah SWT dan tidak seharusnya dijadikan alat untuk kesombongan. Sementara itu, hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi menegaskan posisi penting ilmu dalam kehidupan seorang Muslim dengan menawarkan berbagai peran keilmuan serta peringatan tegas terhadap sikap masa bodoh terhadap ilmu. Temuan ini menunjukkan  bahwa motivasi dalam menuntut ilmu dalam Islam memiliki sifat transendental dan praktis, berperan sebagai penuntutn iman penunjuk amal dan dasar pembangunan peradaban. Dalam konteks pendidikan Islam modern, nilai-nilai ini penting untuk mengubah motivasi belajar agar tidak hanya bersifat praktis, tetapi juga menjadikan ilmu sebagai ibadah dan kewajiban sepanjang hidup.
Implementasi Pendidikan Akhlak dan Karakter Siswa Melalui Konsep Yahdi lillatī Hiya Aqwam (QS. Al-Isrā': 9) Qonitah Qurotaa’yun; Sarwadi Sulisno
El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah Vol. 2 No. 01 (2026): El-Mudarris Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah
Publisher : El-Mudarris: Jurnal Manajemen Pendidikan dan Kepemimpinan Sekolah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi pendidikan akhlak dan karakter pada jenjang remaja awal dengan berlandaskan pada konsep teologis Yahdi lillatī Hiya Aqwam (QS. Al-Isrā': 9). Di tengah krisis degradasi moral dan disrupsi digital yang melanda pelajar kontemporer, diperlukan paradigma pendidikan yang tidak hanya bersifat formalistik, tetapi mampu menyentuh kedalaman nurani peserta didik. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan riset lapangan (field research), penelitian ini mengambil studi kasus pada santriwati Kelas 8 Wustho di Ma'had Al-Imam An-Nasa'i Balikpapan. Data dikumpulkan melalui triangulasi teknik yang meliputi wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa operasionalisasi konsep Aqwam diwujudkan melalui lima pilar integratif: internalisasi tauhid sebagai fondasi integritas, pemanfaatan Al-Qur'an sebagai instrumen rehabilitasi mental (syifa’), supremasi keteladanan (uswah) pendidik, mekanisme kontrol berbasis konsekuensi amal, serta penciptaan ekosistem pendidikan yang holistik. Implementasi ini terbukti efektif mentransformasi pola kepatuhan santri dari yang semula bersifat mekanis menjadi organik (kesadaran muraqabah), serta membangun resiliensi moral terhadap pengaruh negatif media sosial. Temuan ini menegaskan bahwa paradigma Aqwam menawarkan solusi preventif yang tangguh dalam mencetak generasi yang cerdas secara intelektual sekaligus luhur secara akhlak di era modern.
Landasan teologis pendidikan Islam dalam Q.S. Al-‘Alaq Ayat 1–5: Prinsip-prinsip fundamental dan relevansinya terhadap tantangan pendidikan Modern Adya Rafani Prima; Sarwadi Sulisno
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) AL-IKHLAS DAIRI SIDIKALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64677/ppai.v3i1.301

Abstract

Al-‘Alaq verses 1–5 as fundamental principles within Islamic educational philosophy. As the first revelation sent by Allah to Prophet Muhammad through the Angel Jibril, Surah Al-‘Alaq emphasizes the urgency of seeking knowledge. This research aims to analyze the meaning of these verses, explain their theological implications for education, describe the educational concepts embedded within them, and explore their relevance in addressing contemporary educational challenges. This study employs a qualitative library research method. The data sources are divided into two categories: primary data derived from classical and modern tafsir that discuss QS. Al-‘Alaq 1–5, and secondary data consisting of books and scholarly journals relevant to the topic. The findings reveal that QS. Al-‘Alaq verses 1–5 contain four fundamental principles of Islamic education: (1) the command to seek knowledge, (2) education grounded in the doctrine of tawḥīd, (3) the recognition of human nature and innate potential (fiṭrah), and (4) the importance of learning media in the teaching learning process. These verses are also highly relevant in responding to educational issues today, particularly the crises of literacy, morality, and low learning motivation. Therefore, QS. Al-‘Alaq 1–5 as the first revelation serves as a comprehensive theological foundation for Islamic education and offers solutions to various challenges faced by modern educational systems.
Keutamaan Menuntut Ilmu dalam Hadis Nabi: Telaah Makna, Konteks, dan Implikasinya bagi Pendidikan Islam Ar-Rumaisha Al-Atsariyyah; Sarwadi Sulisno
Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol. 1 No. 03 (2025): Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
Publisher : Jurnal Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadits nabi merupakan salah satu dasar penting dalam pendidikan Islam, khususnya dalam menumbuhkan semangat belajar dan membentuk karakter peserta didik. Hadis-hadis yang membahas keutamaan menuntut ilmu sering dijadikan rujukan dalam kajian pendidikan Islam. Namun, sebagian besar penelitian yang ada masih lebih banyak menekankan pada makna teks hadits, tanpa mengaitkannya dengan konteks sejarah kemunculannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hadis-hadis tentang keutamaan menuntut ilmu dengan melihat makna tekstual dan konteks kemunculannya (asbābul wurūd), serta menjelaskan implikasinya bagi pendidikan Islam masa kini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka melalui analisis sanad dan matan hadis, kajian literatur ilmu hadits dan sejarah, serta pembahasan implikasi pendidikan berdasarkan teori pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman hadits secara kontekstual dapat membantu memperjelas maknanya dan mencegah penerapan yang kurang tepat dalam praktik pendidikan. Dengan demikian, penggabungan antara analisis teks dan konteks hadis penting untuk menghasilkan konsep pendidikan Islam yang lebih relevan dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Keterbatasan penelitian ini terletak pada penggunaan data kepustakaan tanpa penelitian lapangan, sehingga penelitian selanjutnya disarankan untuk mengombinasikan kajian hadis dengan penelitian empiris agar penerapan nilai-nilai hadis dalam pendidikan Islam dapat dikaji lebih mendalam.
UPAYA GURU DALAM MENANAMKAN KEDISIPLINAN SANTRI DI PONDOK PESANTREN ISLAMIC CENTER BIN BAZ YOGYAKARTA Teguh Teguh; Muzhaffar Aiman Rabbani; Ahmad Siyam Al Ihsan; M Ikhsan Saputra; Dedi Sugari; Muhammad Arrafi Muzhaffar Permadi; Sarwadi Sulisno
Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : STKIP Pesisir Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34125/jkps.v10i4.1111

Abstract

His study aims to describe and analyze teachers’ efforts in instilling the value of discipline among students at Pondok Pesantren Islamic Center Bin Baz Yogyakarta. The research employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The collected data were analyzed interactively through reduction, presentation, and conclusion drawing stages. The findings reveal that the cultivation of discipline in the pesantren is carried out through three main approaches: habituation, exemplary modeling, and supervision. Habituation is implemented through structured daily routines, exemplary modeling is shown by teachers and dormitory mentors through direct behavior, and supervision ensures consistency and rule enforcement. The religious environment, teacher role models, and collective supervision system significantly reinforce the formation of students’ disciplinary character. The novelty of this study lies in the integration of these three approaches within a single educational system that emphasizes not only rule compliance but also moral and spiritual awareness of discipline among students.