Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Perbandingan Dinamika Kelembagaan Ekonomi Islam di Negara Malaysia dan Amerika Serikat dalam Menghadapi Era Globalisasi 4.0 Siti Aisyah; Naufal Luthfi Alifa
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia Vol. 1 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Multidisiplin Indonesia
Publisher : Atha Publishing Globalindo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64845/jimi.v1i2.70

Abstract

Idealnya, kelembagaan ekonomi Islam menuntut integrasi nilai-nilai syariah yang berorientasi pada keadilan, keberlanjutan, serta kesejahteraan sosial melalui etika, transparansi, dan optimalisasi instrumen keuangan syariah. Namun implementasinya tidak selalu berjalan mulus. Di negara mayoritas Muslim seperti Malaysia, yang dikenal sebagai pusat keuangan Islam global, efektivitas kelembagaan masih menghadapi hambatan, terutama terkait literasi masyarakat, keterbatasan inovasi produk, dan kebutuhan penguatan kapasitas industri. Sementara itu, di negara minoritas Muslim seperti Amerika Serikat, perkembangan ekonomi Islam berjalan lebih terbatas akibat minimnya dukungan kebijakan, rendahnya literasi publik, serta jumlah lembaga keuangan syariah yang masih sangat sedikit. Penelitian ini dilakukan untuk menelaah kondisi ekonomi dan geografis kedua negara, dinamika perkembangan lembaga keuangan syariah, tantangan utama, serta strategi penguatan kelembagaan yang dapat direfleksikan bagi Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berdasarkan referensi jurnal nasional dan internasional periode 2016–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Malaysia memiliki posisi strategis di Selat Malaka yang mendukung sektor manufaktur dan perdagangan global, sedangkan Amerika Serikat bertumpu pada jasa, industri, dan teknologi sebagai motor ekonomi; (2) LKS di Malaysia berkembang secara terintegrasi dalam sistem nasional, sementara di AS bersifat komunitas dan terbatas, meskipun keduanya mulai memanfaatkan digitalisasi untuk memperluas akses; (3) Tantangan Malaysia terletak pada persepsi publik dan keragaman produk, sedangkan AS menghadapi kendala regulasi, ukuran pasar, dan literasi; (4) Indonesia dapat mengambil pelajaran dengan memadukan kekuatan kedua model untuk membangun sistem keuangan syariah yang inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.