Abstrak: Pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) sebagai terapi komplementer berbasis etnomedisin di lingkungan masyarakat masih belum optimal akibat keterbatasan pengetahuan kader, terutama dalam mengenali, mengolah, serta memanfaatkan tanaman obat secara tepat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Griya Santika melalui pemberdayaan berbasis kearifan lokal dalam pemanfaatan TOGA. Metode yang diterapkan meliputi focus group discussion (FGD), penyuluhan interaktif mengenai konsep etnomedisin, serta pendampingan praktik pemanfaatan tanaman obat keluarga. Kegiatan melibatkan 25 kader dari ibu rumah tangga/anggota PKK sebagai mitra. Evaluasi dilakukan menggunakan desain pretest dan posttest melalui kuisiner dengan mengiplementasikan skala likert untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan yang signifikan, ditunjukkan oleh kenaikan persentase kader dengan kategori pengetahuan baik dari 40% sebelum kegiatan menjadi 90% setelah kegiatan, atau meningkat sebesar 50 poin persentase. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pemberdayaan berbasis etnomedisin efektif dalam meningkatkan pengetahuan kader PKK sehingga berpotensi mendukung penerapan terapi komplementer berbasis tanaman obat di tingkat keluarga dan masyarakat.Abstract: Utilization of household medicinal plants (TOGA) as complementary therapy based on ethnomedicine within the community still remains suboptimal due to the limited knowledge and skills of community health workers, particularly in recognizing, processing, and properly utilizing medicinal plants. This community service activity aims to enhance the capacity of Griya Santika Family Empowerment and Welfare (PKK) cadres through empowerment based on local indigenous knowledge in the utilization of TOGA. The methods utilized include focus group discussions (FGDs), interactive workshops on the concept of ethnomedicine, and practical guidance on the use of family medicinal plants. The activity involved 25 cadres, homemakers, and PKK members as partners. Evaluation was conducted using a pretest-posttest design through a questionnaire that implemented a Likert scale to measure participants’ knowledge gains. The evaluation results showed a significant improvement in participants’ knowledge, as evidenced by an increase in the percentage of community health workers classified as having “good” knowledge, from 40% before the activity to 90% after the activity, representing a 50 percentage point increase. These results show that an ethnic medicine-based empowerment approach is effective in enhancing the knowledge of Family Empowerment and Welfare community health workers, thereby potentially supporting the implementation of herbal-based complementary therapies at the family and community levels.