Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Penerapan Fiqih Praktis Untuk Meningkatkan Kepatuhan Ibadah Dan Etos Kerja Islami Di Lingkungan Karyawan Almas Fried Chicken Cihideung Tasikmalaya Umar Alfaruq
Aksi Kita: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 6 (2025): NOVEMBER-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/pfw5fb62

Abstract

Sektor industri kuliner berkategori restoran cepat saji (fast food), memiliki karakteristik operasional dengan ritme yang sangat cepat dan tekanan tinggi demi memuaskan pelanggan. Realitas lingkungan kerja seperti ini sering kali menciptakan dilema tersendiri bagi karyawan Muslim, terutama dalam upaya mereka menyeimbangkan tuntutan profesionalisme pekerjaan dengan kewajiban ibadah mahdhah, seperti pelaksanaan shalat lima waktu yang terjadwal. Merespons problematika tersebut, pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan dengan mengambil lokasi di Almas Fried Chicken, Cihideung, Tasikmalaya. Program ini dirancang secara khusus untuk memberikan solusi melalui pendekatan edukasi Fiqih Praktis serta penguatan fondasi Etos Kerja Islami terhadap 10 orang karyawan. Dalam pelaksanaannya, diterapkan metode yang komprehensif, mulai dari penyuluhan mendalam, simulasi tata cara bersuci (thaharah) yang efisien air dan waktu, hingga forum diskusi interaktif terkait strategi manajemen waktu di tengah jam sibuk. Intervensi ini berhasil membuka wawasan karyawan mengenai adanya konsep rukhsah atau keringanan dalam syariat Islam, yang memungkinkan ibadah tetap terlaksana tanpa mengganggu operasional perusahaan. Dampak signifikan dari kegiatan ini adalah terbentuknya kesadaran kolektif bahwa produktivitas kerja dan ketaatan agama bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dapat berjalan beriringan secara harmonis. Lebih jauh lagi, internalisasi nilai bahwa 'bekerja adalah manifestasi ibadah' terbukti efektif dalam mendorong peningkatan integritas, kedisiplinan, serta kualitas pelayanan kepada konsumen. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa integrasi antara nilai-nilai spiritualitas dan profesionalisme merupakan elemen krusial dalam keberhasilan manajemen Sumber Daya Manusia (SDM), khususnya di wilayah dengan kultur religius yang kuat seperti Tasikmalaya.
Tantangan Dakwah Tradisional di Era Digital : Analisis Prilaku Remaja Dilihat Dari Rendahnya Partisipasi Pengajian Mingguan Umar Alfaruq
Educational Journal Vol. 1 No. 2 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/v518k887

Abstract

This research is driven by the phenomenon of digital disruption, which has led to low participation among adolescents in weekly religious gatherings (pengajian). Despite the vital role of these gatherings in character building, a gap has emerged between monotonous traditional preaching methods and the interactive, visual digital lifestyles of modern youth. This study aims to evaluate the challenges of traditional da'wah and analyze shifts in adolescent behavior in the digital era to prevent a disconnect in the transmission of Islamic values. Using a qualitative approach with a descriptive design, data were collected through technical triangulation, including participant observation, documentation, and in-depth interviews with the adolescent population at the research site. The results indicate that the low level of engagement is not caused by a loss of religiosity, but rather by psychological and social alienation from their environment, others, or even themselves. This is a result of one-way lecture methods that clash with the cognitive structures of today's adolescents, who possess a short attention span. The study found highly intensive smartphone usage, 3–18 hours/day, dominated by the TikTok platform as a source of instant gratification. Adolescents tend to perceive conventional gatherings as boring and rigid compared to short, relevant digital da'wah content. The research concludes that the future of moral regeneration in rural areas heavily depends on the adaptability of da'wah institutions in reforming communication styles to be more popular, inclusive, and interactive, as well as modernizing mosque infrastructure, such as providing Wi-Fi facilities, to enhance da'wah relevance for digital natives.