Ali Imron
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Paradigm of Human Nature in the Perspective of the Qur'an Arsyad Khoirul Ma'arif; Ahmad Arifi; Ali Imron
Edumaspul: Jurnal Pendidikan Vol 8 No 2 (2024): Edumaspul: Jurnal Pendidikan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Enrekang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia dipandang sebagai makhluk mulia dengan potensi luar biasa sejak lahir. Karena itu, Al-Qur'an menyebut tiga istilah, yakni: Al-Insan, An-Nas, dan Basyar untuk menggambarkan kemanusiaan. Mengingat manusia dianugerahi fitrah, akal, dan hati landasan kehidupan yang bermakna bagi setiap Muslim mereka tidak punya pilihan selain mengemban peran sebagai utusan atau khalifah di planet ini dengan segala tanggung jawab yang menyertainya. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan pemahaman tentang hakikat dan tujuan hidup manusia menurut ajaran Al-Qur'an. Kemudian metode pengumpulan dalam penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan data dari dokumen-dokumen yang relevan sesuai dengan judul ini. Kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa Dalam Al-Quran, terdapat tiga aspek esensi manusia: Al-Insan yang menegaskan peran manusia sebagai khalifah atau pembawa amanah; Al-Nas yang mengindikasikan sifat sosial manusia; dan Basyar yang menggambarkan manusia sebagai entitas biologis. Di dalam Al-Qur'an bahwa manusia diciptakan dengan tujuan sebagai "abd" (hamba untuk menyembah), dan bahwa tugasnya adalah sebagai khalifah (pemimpin, pengatur, atau pemelihara). Allah telah memberi manusia berbagai kemampuan untuk melakukan tugas dan tujuan.
Dog Components in Vaccines; Jurisprudential Verses, Ḥādīṡ and ‘Ulamā’ Distinctive Perspective Ali Imron; Anif Yuni Muallifah; Ahmed Zaranggi Ar Ridho; Muhammad Zaelani; Firdarini
AL-IHKAM: Jurnal Hukum & Pranata Sosial Vol. 21 No. 1 (2026): in Progress
Publisher : Faculty of Sharia IAIN Madura collaboration with The Islamic Law Researcher Association (APHI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/al-lhkam.v21i1.17926

Abstract

This study aims to explore the perspectives of Yogyakarta scholars on vaccines produced using MDCK (Madin-Darby Canine Kidney) cells derived from dog kidneys. MDCK raises concerns among Muslims regarding its ḥalāl status, as dogs are considered impure (najis) in Islamic law. Through in-depth interviews with five key informants from MUI, LPH, LBM PWNU, and UIN Sunan Kalijaga, this study examines their views based on the al-Qur’ān, Ḥādīṡ, and juristic opinions. The findings reveal diverse positions. One informant emphasizes regulatory barriers rooted in the Shafi'i school, which requires istiḥālah (perfect transformation) and rejects foreign ḥalāl certificates. Other informants invoke talfīq (eclecticism) by shifting to the Maliki or Hanafi schools, which consider dogs not impure. They also highlight the concept of mujāwir (process accompaniments), arguing that MDCK cells are effectively removed through purification, and that even in the Shafi'i school, impurity invisible to the naked eye is forgivable (ma‘fuwwun ‘anhu). Clinical analogies, such as Enoxaparin, further support conditional permissibility. The majority accept MDCK-based vaccines when no ḥalāl alternatives exist, purification ensures no cellular traces remain, and public health necessity (ḍarūrah) justifies their use under ḥifẓ an-nafs (preservation of life). This study has limitations, namely that it only covers scholars from Yogyakarta and focuses only on MDCK cells. Further research is needed for other regions and for other impure (najis) materials besides MDCK.