Muhammad Tahir
Universitas Negeri Makassar, Indonesia

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Strategi Wacana dan Kekuasaan dalam Pemberitaan Pembebasan Bea Masuk Barang Jemaah Haji: Telaah Model Teun A. Van Dijk Andi Sahtiani Jahrir; Muhammad Tahir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1651

Abstract

Penelitian ini menganalisis strategi wacana dan praktik kekuasaan dalam pemberitaan tentang pembebasan bea masuk barang bawaan jemaah haji di beberapa media Indonesia, menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis model Teun A. van Dijk. Fokus penelitian terletak pada bagaimana struktur teks (superstruktur), pilihan bahasa dan strategi linguistik (mikrostruktur), representasi sosial, serta konteks kekuasaan memengaruhi konstruksi makna dan legitimasi kebijakan tersebut. Data diperoleh dari pemberitaan BeaCukai.go.id, Tempo.co, Detik.com, dan Garuda.tv. Hasil analisis menunjukkan media-media tersebut tidak sekadar menyampaikan informasi, melainkan juga membingkai narasi sesuai dengan kepentingan ideologis dan politik masing-masing. Media pemerintah cenderung menekankan aspek formal dan legitimasi hukum, sementara media populer menggunakan bahasa yang lebih komunikatif dan persuasif untuk menarik simpati publik. Pemberitaan ini mereproduksi ideologi dominan yang menempatkan negara sebagai pelindung rakyat, dengan minim kritik terhadap kebijakan. Temuan ini menegaskan bahwa media berperan sebagai arena perebutan wacana yang mencerminkan dan memperkuat hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Penelitian ini memberikan wawasan penting mengenai dinamika bahasa dan kekuasaan dalam praktik jurnalistik Indonesia, khususnya dalam isu sosial-keagamaan yang strategis.
Teachers’ Perceptions of Student Motivation and Its Influence on Assessment Validity in Junior High Schools in South Sulawesi Muhammad Tahir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i2.1652

Abstract

Abstract This study explores junior high school teachers’ perceptions of student motivation and its influence on assessment validity in South Sulawesi, Indonesia. Grounded in Self-Determination Theory and Expectancy-Value Theory, the research investigates how teachers understand and integrate motivational factors into their assessment practices. A total of 100 teachers participated in a quantitative descriptive survey using a structured Likert-scale questionnaire consisting of 10 items. The data were analyzed using descriptive statistics, including frequency and percentage distributions, and visualized through line and bar charts. The results reveal a strong consensus among teachers that student motivation significantly affects the accuracy and fairness of assessment outcomes. Most respondents agreed or strongly agreed that motivated students perform better and produce more valid results. However, a small proportion of teachers expressed uncertainty regarding how to factor motivation into assessment interpretation, particularly when dealing with low-motivation students. These findings underscore the importance of incorporating motivational considerations into classroom assessment practices and call for professional development programs that equip teachers with strategies to support and evaluate student motivation effectively. The study contributes to the growing body of literature advocating for motivation-sensitive assessment systems, particularly in the Indonesian secondary education context.
Teaching and Learning English Using Differentiated Learning Strategy in Merdeka Curriculum at Remote Island : Calssroom Practices Wahdaniah Wahdaniah; Sultan Baa; Chairil Anwar Korompot; Muhammad Tahir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2658

Abstract

This study aims to examine the teaching and learning process through the implementation of differentiated learning strategy for teaching speaking in the Merdeka Curriculum at a remote island school. Employing a case study design, data were collected through direct classroom observation. Participants were selected using purposive sampling, involving one English teacher and five eighth-grade students. Data were analyzed using the Miles and Huberman model, including data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that the teacher applied differentiation based on students’ readiness, interests, and learning profiles by using varied speaking tasks, contextual materials, and flexible grouping. Despite constraints such as limited technology, restricted instructional time, and lack of resources, the differentiated learning strategy fostered student engagement and improved speaking confidence. The results indicate that differentiated learning, when implemented responsively, can enhance inclusive and effective speaking instruction in remote educational settings.
Multimodal Discourses of Moral Values in the Bahasa Indonesia Kawan Seiring Textbook for Grade 3 Primary Schools: A Critical Appraisal Study Andi Sahtiani Jahrir; Muhammad Tahir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2671

Abstract

This study investigates how moral values are represented in the Bahasa Indonesia Kawan Seiring textbook for Grade 3 primary schools, published by the Indonesian Ministry of Education, Culture, Research, and Technology (2022). Beyond its role in literacy development, the textbook functions as a curricular artefact through which children internalize moral and civic values aligned with Indonesia’s Profil Pelajar Pancasila. The study employs a qualitative multimodal critical discourse analysis (MCDA), integrating Martin and White’s (2005) Appraisal framework with Kress and van Leeuwen’s (2006) Visual Grammar. The corpus consists of eight textbook chapters containing dialogues, narratives, teacher prompts, illustrations, and reflective activities. Segments with moral orientations were identified, coded into value categories (e.g., helpfulness, politeness, tolerance, responsibility, creativity, diversity), and tabulated. Verbal texts were examined for evaluative stance (affect, judgment, appreciation), while visual texts were analyzed for ideational, interpersonal, and textual meanings. Each value was then mapped against the six dimensions of the Profil Pelajar Pancasila. Findings show that the most salient values are helpfulness, politeness, and tolerance, followed by responsibility, respect, and creativity. These values are linguistically realized through softened imperatives Apakah kamu perlu bantuanku?, affective expressions of empathy, and visually through egalitarian compositions that emphasize cooperation and inclusion. By situating morality in everyday contexts—traditional games, classroom activities, family collaboration, and digital practices—the textbook presents values as lived experiences rather than abstract doctrines. The study contributes to scholarship on textbook-mediated moral education in non-Western contexts and provides practical insights for teachers and policymakers. Kawan Seiring illustrates a hybrid pedagogy that integrates traditional norms with emerging priorities such as digital citizenship and global mindedness, positioning children as both moral agents and future global citizens.
Bahasa Hak Istimewa dan Krisis Legitimasi: Analisis Wacana Kritis atas Kontroversi Tunjangan Perumahan DPR 2025 Andi Sahtiani Jahrir; Muhammad Tahir
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2672

Abstract

Kontroversi tunjangan perumahan DPR tahun 2025 memicu krisis legitimasi nasional yang tidak hanya bersumber dari substansi kebijakan, tetapi terutama dari performativitas linguistik para legislator. Studi ini menganalisis bagaimana strategi retorika—normalisasi, minimisasi, dan legitimasi digunakan dalam ujaran publik anggota DPR, serta bagaimana strategi tersebut gagal ketika bertemu dengan ekologi media dan model mental publik. Menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Fairclough yang dipadukan dengan model sosiokognitif van Dijk, penelitian ini mengkaji lima ujaran legislator yang viral, liputan media, serta artefak digital seperti meme, potongan video, komentar warganet, dan tagar kritik. Temuan menunjukkan bahwa pilihan leksikal seperti hanya, wajar, kompensasi, dan hak berfungsi menormalkan privilese namun justru dibaca publik sebagai arogansi moral di tengah krisis ekonomi. Media arus utama dan media sosial memperkuat delegitimasi melalui reframing, viralitas klip pendek, serta produksi satir dan meme yang menggeser makna dari entitlement menjadi greed. Pada level makro, wacana ini membentuk konflik simbolik antara elite dan rakyat, menempatkan DPR sebagai aktor yang tidak peka terhadap penderitaan publik. Analisis sosiokognitif memperlihatkan bahwa reaksi publik dipengaruhi oleh skema ketidakadilan, memori skandal politik, dan afek kolektif. Studi ini menyimpulkan bahwa legitimasi politik dalam era politik yang termediatisasi sangat ditentukan oleh kesesuaian antara bahasa elite dan model mental publik; ketika keduanya tidak selaras, delegitimasi multisitus muncul dengan cepat, viral, dan masif.