Zakky Hilmi Nur Hanif
Universitas PGRI Semarang, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Konflik Aceh 1998 dalam Kumpulan Cerpen “Cerita dari Sebelah Masjid Raya” Karya Raisa Kamila Zakky Hilmi Nur Hanif; Siti Fatimah; Pipit Mugi Handayani
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2788

Abstract

Representasi Konflik Aceh 1998 dalam Kumpulan Cerpen “Cerita dari Sebelah Masjid Raya” Karya Raisa Kamila. Konflik antara Pemerintah Indonesia dengan GAM di Aceh yang terjadi mulai tahun 1976 sampai dengan Agustus 2005 banyak sastrawan menulis karya sastra dengan tema konflik Aceh. Raisa Kamila merupakan salah satu penulis yang menulis cerpen-cerpennya berdasarkan konfliks Aceh. Terdapat tiga buah cerpen yang ditulis berdasarkan konfliks Aceh yaitu “Mati Lampu”, “Cerita dari Cot Panglima”, dan “Sarang Kutu” dalam kumpulan cerpen “Cerita dari Sebelah Masjid Raya” yang diterbitkan oleh PT Mizan Pustaka pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi konfliks Aceh pada tiga cerpen tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologis pada aspek karya sastra sebagai cermin masyarakat. Teknik pengumpuan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dengan langkah baca, dokumentasikan dan sajikan. Sedangkan teknik analisis data menggunakan tiga tahapan yaitu, (1) tahap reduksi data, (2) tahap penyajian data, (3) tahap pemaparan kesimpulan dan verifikasi data (Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman, 2009). Hasil penelitian terhadap cerpen “Mati Lampu” menunjukkan bahwa adanya ancaman, ketidaknyamanan, kekhawatiran, dan kewaspadaan warga sipil karena sering terjadinya aksi tembak-menembak, penculikan, penghilangan yang dilakukan oleh kelompok GAM. Pada cerpen “Cerita dari Cot Panglima” menggambarkan adanya tindak kekerasan, interogasi kepada warga sipil yang dilakukan oleh GAM dan juga adanya sentimen terhadap etnis Jawa. Sedangkan pada cerpen “Sarang Kutu” menunjukkan adanya penculikan terhadap orang yang menjadi anggota GAM dan orang yang dicurigai besimpati terhadap GAM yang membuat warga sipil dilanda kecemasan dan ketakutan. Ketiga cerpen tersebut menunjukkan bahwa konflik Aceh adalah konflik yang mengerikan bagi masyarakat sipil. Diceritakan dalam ketiga cerpen dimana masyasarakat hidup sehari-hari dalam suasana mencekam, penuh dengan ketegangan, rasa was-was dan harus waspada terhadap peristiwa buruk yang akan terjadi. Dalam ketiga cerpen terdapat perbedaan yaitu pada tokoh-tokoh ceritanya sedangkan persamaannya adalah pada masalah pokok yang dibahas dan tokoh -tokoh konflik yang dialami para tokohnya.