Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia akibat kondisi geografis, perubahan tata ruang, degradasi lingkungan, serta curah hujan tinggi yang melebihi kapasitas penampungan air. Fenomena banjir, terutama pada wilayah rawan, tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan kerugian material, tetapi juga memberikan dampak psikologis yang signifikan bagi masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh hilangnya lingkungan tempat tinggal, terganggunya aktivitas ekonomi, serta ancaman keselamatan yang berulang setiap terjadinya banjir. Dampak psikologis yang muncul antara lain stres, kecemasan, depresi, trauma, gangguan tidur, hingga risiko gangguan stres pascatrauma. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir seringkali harus mengembangkan strategi adaptasi untuk mengurangi beban psikologis, termasuk membangun resiliensi dan memanfaatkan dukungan sosial dari keluarga maupun komunitas. Resiliensi berperan penting dalam membantu individu bangkit dari situasi sulit, menjaga stabilitas emosi, serta kembali menjalankan aktivitas setelah bencana. Dukungan sosial juga menjadi faktor protektif yang membuat korban merasa diperhatikan, dihargai, dan tidak menghadapi bencana secara sendirian. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan dampak psikologis banjir, faktor-faktor yang memengaruhi ketahanan mental korban, serta pentingnya dukungan sosial dalam proses pemulihan. Dengan memahami dinamika ini, diharapkan berbagai upaya penanggulangan bencana dapat mencakup aspek psikologis sehingga mampu meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana secara berkelanjutan.