Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Strategi Pencegahan Serangan Terorisme Terhadap Ibu Kota Negara Baru di Kalimantan Timur Maslikan Martono; Sapto Priyanto
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 5 No. 5 (2025): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v5i5.4592

Abstract

Terorisme adalah persoalan kompleks di tengah fenomena global saat ini. Terorisme sering diartikan juga sebagai tindakan kekerasan yang menargetkan warga sipil untuk mencapai tujuan politik maupun ideologi kelompok mereka. Aksi terorisme dilakukan untuk memaksakan kehendaknya kepada pihak-pihak yang dianggap sebagai lawan, agar kepentingannya diakui dan dihormati. Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak bisa lepas dari ancaman terorisme, terutama pasca peristiwa bom gedung WTC dan Bom Bali pada awal tahun 2000an lalu. Saat ini, terorisme menjadi ancaman baru seiring dengan rencana pemindahan Ibu Kota Negara Indonesia ke Kalimantan Timur. Lokasi IKN baru di Kalimantan Timur pada umumnya berdekatan dengan perbatasan antar negara, dan sekaligus berbatasan dengan berbagai wilayah yang rentan dengan aktivitas terorisme, termasuk keberadaan napiter, ex-napiter maupun simpatisan di sekitar wilayah tersebut. Sebagai suatu wilayah yang vital bagi negara Indonesia kedepannya, maka diperlukan strategi pencegahan terorisme untuk menciptakan keamanan IKN. Ini dilakukan dengan langkah-langkah persiapan kebijakan dan perencanaan pengamanan, hingga pembangunan smart city yang mendukung pengamanan anti terorisme, serta peningkatan kemampuan mitigasi terorisme.
Strategi Pencegahan Ancaman Terorisme Terhadap Ibu Kota Nusantara (IKN) Melalui Penguatan Nilai-Nilai Pancasila ahmad asad; Sapto Priyanto
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 5 No. 5 (2025): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v5i5.4732

Abstract

Mengelola negara besar seperti Indonesia di masa globalisasi saat ini tentu tidak mudah. Tafsir agama yang tidak akurat, radikalisme, dan ideologi teroris saat ini disebarluaskan melalui media sosial. Terorisme juga secara tidak langsung disebabkan oleh radikalisme. Oleh karena itu, penguatan asas Pancasila perlu dilakukan guna memerangi maraknya aksi terorisme dan radikalisme. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji rencana penguatan cita-cita Pancasila dalam rangka mencegah ancaman terorisme terhadap Ibu Kota Negara Republik Indonesia (IKN). Untuk mengumpulkan data mengenai strategi Indonesia dalam pemberantasan terorisme, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang berpusat pada tinjauan literatur. Temuan analisis menunjukkan bahwa menjunjung tinggi nilai-nilai utama Pancasila dapat menumbuhkan rasa solidaritas dalam menghadapi terorisme dan radikalisme. Pancasila adalah titik awal yang sempurna untuk memerangi terorisme. Tiga sila utama Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, serta Persatuan Indonesia bertentangan langsung dengan gerakan teroris. Penanaman cita-cita Pancasila yang terus-menerus, intens, meluas, terkoordinasi, dan kohesif akan menyebabkan gerakan dan ideologi ekstrem punah dan tidak berkembang. Penghapusan gerakan dan gagasan ekstrem akan berdampak pada suasana kehidupan sosial di masyarakat, menjadi lebih aman, tenteram, dan tidak kenal takut.
Fenomena Anak Mantan Narapidana Terorisme: Peran Penting Pendidikan dalam Proses Deradikalisasi Sapto Priyanto; Irfanditya Wisnu Wardana; Aulya Nanda Permana
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (April - Mei 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v7i3.8119

Abstract

Terorisme telah menjadi ancaman global, serta memberikan dampak yang mendalam tidak hanya pada korban langsung dalam tindak pidana terorisme itu sendiri, tetapi juga pada keluarga mantan narapidana terorisme, khususnya anak-anak mereka. Anak-anak dari mantan narapidana terorisme seringkali berhadapan dengan labelling yang diberikan oleh masyarakat khususnya di sekitar tempat tinggalnya bahwa mereka adalah anak mantan narapidana terorisme disertai dengan trauma psikologis, dan risiko radikalisasi lebih lanjut oleh kelompok radikal terorisme. Paper ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pendidikan dalam proses deradikalisasi bagi anak – anak mantan narapidana terorisme. Melalui analisis literatur yang mendalam dan studi kasus, paper ini ingin menunjukkan bahwa pendidikan formal dapat menjadi salah satu metode untuk deradikalisasi dan memfasilitasi integrasi sosial anak-anak tersebut. Akan tetapi, ditemukan juga tantangan dalam implementasi pendidikan sebagai metode deradikalisasi, salah satunya seperti kurangnya sumber daya manusia dalam pelaksanaan pendidikan formal itu sendiri. Sebagai kesimpulan, paper ini mengakui pentingnya pendidikan sebagai alat deradikalisasi dan menyerukan kerja sama yang lebih erat antara pemerintah, komunitas, dan sektor pendidikan untuk memastikan bahwa anak-anak dari mantan narapidana terorisme mendapatkan pendidikan yang memadai dan dukungan yang diperlukan untuk mengintegrasikan mereka kembali ke dalam masyarakat.