Manya Deptiana Sari
Universitas Negeri Padang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Konservasi Budaya Seni Dendang Masyarakat Serawai Manya Deptiana Sari; Erda Fitriani
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.211

Abstract

Eksistensi seni dendang masyarakat Serawai sudah mulai terancam. Era modern saat ini masyarakat sudah jarang menggunakan seni dendang sebagai hiburan di acara- acara adat seperti pernikahan, aqiqah ataupun sunat rasul serta generasi muda sudah kurang tertarik mempelajari seni dendang. Sehingga diperlukan adanya konservasi terhadap warisan budaya seni dendang masyarakat Serawai untuk pelestarian dan penyelamatan kesenian Serawai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan konservasi warisan budaya seni dendang yang dilakukan oleh Sanggar Tiga Serangkai di Desa Suka Bandung. Penelitian ini dianalisis dengan teori habitus dan modal budaya oleh Pierre Bourdieu. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe penelitian studi kasus. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 12 orang dengan kriteria tokoh adat, pengurus sanggar, anggota sanggar, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen, serta menggunakan analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan konservasi budaya yang dilakukan sanggar Tiga Serangkai agar eksistensi Seni Dendang Desa Suka Bandung tetap terjaga keberadaanya yaitu dengan: pertama mengenalkan seni dendang pada generasi penerus, kedua melatih generasi muda, ketiga melakukan pertunjukan melalui perlombaan baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten, keempat mempromosikan seni dendang di media sosial. Kelima mempersingkat waktu penampilan tanpa mengurangi makna. Implikasi penelitian ini mengusulkan agar konservasi warisan budaya seni dendang tidak hanya melibatkan generasi muda laki-laki tapi juga bisa melibatkan generasi muda perempuan.