p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Social Empirical
Reri Damai Gea
Universitas Negeri Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Motivasi Wisatawan Gen Z dalam Mengunjungi Objek Wisata Sejarah Lobang Jepang di Bukittinggi Dwi Sulistia Wati; Reri Damai Gea; Dira April Indria; Delmira Syafrini; Selfira Cania; Elvaririn Elvaririn; Fira Fadila; Tiara Sabrina Wulandari; Zahra Najla; Bunga Dinda Permata
Social Empirical Vol. 2 No. 2 (2025): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v2i2.41

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena meningkatnya minat Generasi Z terhadap wisata sejarah, termasuk kunjungan ke objek wisata Lobang Jepang di Bukittinggi yang memiliki nilai historis penting terkait masa penjajahan Jepang. Objek wisata LobangĀ  JepangĀ  ini menarik Gen Z memaknai pengalaman wisata sejarah tersebut untuk rekreasi dan kebutuhan visual, atau juga melibatkan motivasi edukatif dan emosional yang berkaitan dengan pemahaman sejarah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis motif kunjungan Generasi Z ke Lobang Jepang dengan mempertimbangkan aspek edukasi, emosi, rekreasi, estetika visual, serta dorongan sosial-digital. Pendekatan pada penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus untuk menggali fenomena motivasi wisatawan Gen Z secara mendalam. Teknik pengumpulan data meliputi observasi langsung untuk mengamati motif Gen Z secara spontan saat mengunjungi Lobang Jepang , dan wawancara mendalam dengan panduan pertanyaan terbuka agar informan bebas menceritakan pengalaman mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi Gen Z bersifat beraneka ragam. Di satu sisi, mereka terdorong untuk memahami sejarah kelam yang berkaitan dengan kerja paksa pada masa pendudukan Jepang, sehingga kunjungan menjadi sarana refleksi dan pembelajaran. Di sisi lain, motivasi rekreasi seperti menikmati pemandangan, refreshing, dan kebutuhan dokumentasi visual juga menjadi faktor penting. Dengan demikian, Lobang Jepang berfungsi sebagai destinasi yang menggabungkan nilai edukatif, emosional, dan rekreatif bagi Generasi Z.
Analisis Persepsi Mahasiswa Universitas Negeri Padang Terhadap Budaya Pop Jepang dan Peran Media: Perspektif Imperialisme Budaya Ocha Ocha; Rahma Dilla; Pujawulan Dari; Reri Damai Gea; Novia Amirah Azmi; AB Sarca Putera
Social Empirical Vol. 1 No. 2 (2024): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v1i2.42

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa Universitas Negeri Padang terhadap budaya pop Jepang serta peran media dalam membentuk pandangan mereka, melalui perspektif imperialisme budaya. Penelitian ini penting dilakukan karena meningkatnya pengaruh budaya pop Jepang di kalangan generasi muda di Indonesia, serta peran media dalam menyebarluaskan budaya tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam dengan mahasiswa dari berbagai program studi untuk memahami pandangan dan pengalaman mereka mengenai pengaruh budaya Jepang, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun melalui media sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa media, terutama media sosial, berperan penting dalam memperkenalkan budaya Jepang kepada mahasiswa. Beberapa informan merasa terpengaruh oleh elemen budaya Jepang seperti anime, cosplay, dan gaya hidup Jepang, meskipun tetap berusaha mempertahankan identitas budaya lokal. Penelitian ini menemukan adanya dampak positif, seperti peningkatan wawasan mengenai budaya Jepang dan adopsi nilai-nilai disiplin, tetapi juga terdapat kekhawatiran terhadap dominasi budaya asing yang berpotensi menggeser nilai-nilai lokal. Jadi fenomena imperialisme budaya terlihat dalam bagaimana budaya Jepang mempengaruhi mahasiswa, meskipun masih ada upaya untuk menjaga keseimbangan dengan budaya lokal.