Sektor peternakan sapi potong menghadapi tantangan signifikan terkait ketersediaan dan biaya pakan, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia. Ketergantungan pada pakan konvensional seperti rumput gajah (Napier) menjadi kurang berkelanjutan akibat dampak perubahan iklim dan meningkatnya biaya produksi. Sebagai alternatif, pemanfaatan limbah tanaman pakan seperti jerami padi, tongkol jagung, dan limbah tanaman lainnya menawarkan potensi besar sebagai sumber pakan yang ekonomis dan berkelanjutan. Kajian ini dilatarbelakangi oleh tingginya produksi limbah pertanian, khususnya jerami padi, yang belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Data populasi sapi potong berdasarkan BPS Kabupaten Barru (2024) berjumlah 24.234 ekor, terdiri dari 5.842 ekor anak, 7.320 ekor muda, dan 19.114 ekor dewasa. Populasi tertinggi tercatat di Kecamatan Barru dan Tanete Riaja, yang juga merupakan wilayah sentra pertanian padi. Dominasi populasi sapi dewasa (79%) menunjukkan potensi produksi daging adalah sapi jantan dewasa, namun juga menuntut penyediaan pakan yang berkelanjutan. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji potensi pengembangan populasi sapi potong berdasarkan ketersediaan limbah tanaman pangan di Kabupaten Barru. KajianĀ ini merupakan kajian statisitik deskriptif. Data yang digunakan pada kajian adalah data sekunder. variabel yang diukur adalah populasi ternak (ST), produksi bahan kering (BK),daya dukung limbah, dan kapasitas peningkaatan populasi sapi. Hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan limbah jerami padi di dua kecamatan tersebut mampu mendukung peningkatan populasi sapi potong apabila dimanfaatkan secara optimal. Kesimpulan dari kajian ini menegaskan bahwa pemanfaatan limbah tanaman pangan sebagai pakan alternatif berpotensi mendukung keberlanjutan usaha sapi potong di Kabupaten Barru. Diperlukan intervensi melalui penyuluhan dan adopsi teknologi pakan untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas peternak dalam memanfaatkan limbah tersebut secara efisien.