Misbah Hudri
Universitas PTIQ Jakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Perspective of Women’s Hakiki Justice: New Methods in Gender Based Research Misbah Hudri
Al-'Allāmah: Journal of Scriptures and Ulama Studies Vol. 2 No. 2 (2025): Gender Justice and Women’s Rights in Qur’anic and Islamic Studies
Publisher : The Ulama Cadre Education Program of Great Mosques of Istiqlal (PKUMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/al-allmah.v2i2.31

Abstract

This Women's hakiki justice was initiated by Nur Rofiah, is a perspective in gender-based research. This perspective is one of three offered by the Kongres Ulama Perempuan Indonesia. The basic principle is that justice does not make the strong and dominant standard for the weak and vulnerable. By looking at women's unique experiences, namely biological experiences (menstruation, pregnancy, giving birth, childbirth, and breastfeeding) and social experiences (stigmatization, marginalization, subordination, violence, and double burden). Women can only obtain hakiki justice if it is addressed by ensuring five biological experiences are facilitated and five social experiences are eliminated. This type of research is included in qualitative research by processing library data using descriptive-analytical methods. Briefly reviews the perspective of Women's Hakiki Justice, a new way of reading in gender research. One of the examples raised is the concept of marriage in QS. ar-Rum (30): 21. Women's hakiki justice as a perspective is still trying to find ways that are more detailed and more concrete steps. But, at least this perspective of hakiki justice offers new things that are more gender-just. In addition, it also introduces three types of verses in the Qur'an, namely the starting point verse, the intermediate target verse, and the final destination verse as an effort to arrive at Islamic ideals. Furthermore, as an example of application from the perspective of women's hakiki justice, which departs from the concept of marriage. Then it is supported by other elements such as how samawa in marriage, a shared goal, can be realized and create mutual benefit. Demanding peace, love, and compassion between the two parties and happiness both. This includes the perspective of hakiki justice that is not in line with polygamy or wife beating. The intended marriage emphasizes that the two are in a pair relationship, making the marriage a solid promise between husband and wife to Allah. Then build a relationship that is dignified, fair and mutually pleasing between the two.
Integrasi Teks dan Konteks Asbabunnuzul Terhadap Justifikasi Dalil Agama Pelaku Terorisme Misbah Hudri
IJMIS: Istiqlal Journal on Mosque and Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Islam, Society, and Contemporary Challenges: Textual Interpretation, Environmen
Publisher : Badan Pengelola Masjid Istiqlal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70017/ijmis.v1i2.14

Abstract

Tulisan ini mengulas mengenai peran penting asbabunnuzul didukung oleh latar kesejarahan di mana Al-Qur’an diturunkan. Memperhatikan teks dan konteks ayat menjadi salah satu upaya untuk menemukan pemahaman ayat. Termasuk ayat Al-Qur’an yang disalahpahami dan dijadikan dasar untuk melakukan aksi terorisme. Tujuannya dalam rangka jihad di jalan Allah dengan ragam jenis yang sering terjadi di Indonesia termasuk peristiwa bom bunuh diri. Dua dalil yang sering digunakan: rangkaian ayat dari QS. al-Baqarah (2): 190-193 dan QS. al-Maidah (5): 44. Tentang kebolehan untuk berperang dan berhukum atas hukum Allah. Jenis penelitian yang digunakan dalam tulisan ini ialah kualitatif dengan instrumen kerja deskrptif-analitis. Termasuk dalam penelitian yang menggunakan data pustaka (library research). Selanjutnya mempertanyakan mengenai teks dan konteks asbabunnuzul dalil dari ayat Al-Qur’an yang digunakan oleh pelaku terorisme. Hal ini dilihat dengan berdasar pada pemahaman asbabunnuzul khassah dan asbabunnuzul ‘ammah sebagai mana pemahaman Imam Syatibi, juga yang disebutkan oleh al-Dahlawi dengan asbabunnuzul juz’i dan asbabunnuzul haqiqi dan asbabunnuzul mikro makro yang disebutkan oleh scholar Islam kontemporer. Selanjutnya dengan pemamaham Imam Syatibi implementasi dan penerapannya, berdasarkan teks dan konteks (tatbiq). Dua dalil yang sering digunakan para kaum radikal atau pelaku aksi terorisme ini memiliki peristiwa dibaliknya. Rangkaian QS al-Baqarah (2): 190-193 peristiwa Hudaibiyah ketika sahabat khawatir akan diperangi oleh kafir Quraisy maka ayat turun untuk membolehkan perang dengan syarat ketentuannya. QS. al-Maidah (5): 44 berkenaan dengan peristiwa ketidakinginan sahabat untuk menerapkan hukum rajam. Ayat turun sebagai respon untuk menerapkan hukum yang berlaku. Dalil yang digunakan pelaku terorisme, dari segi konteksnya tidak mampu mengakomodir alasan pembenar jihad menurut pandangan mereka. Dilihat juga dari konteks Indonesia di mana ‘dipaksa’ untuk diterapkan, tidaklah sesuai. Mengingat Indonesia sebagai negara merdeka memiliki hukum dan aturannya sendiri, yang tentu saja sudah menjadi bagian dari cita-cita bangsa secara umum.