Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kritik sosial yang terdapat dalam novel Merajut Harkat karya Putu Oka Sukanta. Penelitian ini hanya membahas tentang kritik sosial berupa masalah sosial yang dikritik serta Maksud dari kritik sosial yang disampaikan pengarang dalam novel Merajut Harkat karya Putu Oka Sukanta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, masalah penting yang dikritik dalam novel Merajut Harkat Karya Putu Oka Sukanta adalah agama, budaya, kemanusiaan, politik ideologi, dan Institusi. Masalah agama, novel Merajut Harkat ini, kritik tentang keyakinan begitu kental dan faktual. Bahwa seorang PKI sekali pun yang dianggap sebagai seorang yang negatif di mata rakyat Indonesia, di “cap” sebagai entitas yang bersalah dan “masuk neraka”, namun mereka masih berpegang teguh pada nilai-nilai agama, mereka masih berpegang teguh pada nilai-nilai ketuhanan. Mereka menganggap bahwa Tuhanlah yang menentukan segalanya. Sekalipun mereka seorang PKI, namun nilai-nilai ketuhanan masih melekat teguh di dalam jiwa dan raganya. Masalah budaya, kritik terhadap budaya selalu menghasilkan penilaian terhadap objek budaya. seperti kritik terhadap fisik manusia. Ciri fisik seseorang menjadi cara menilai seseorang itu apakah ia seorang melayu, negro, cina, atau lain sebagainya. Apakah ia pantas menjabat jabatan sosial yang pantas di dalam masyarakat. Budaya juga terkait dengan kebiasaan masyarakatnya. Kritik sosial budaya dalam persoalan kebiasaan ini dapat berupa stigmatisasi dominasi. Dominasi terjadi karena terjadi kebiasaan yang buruk yang kemudian melekat pada suatu hal. Masalah kemanusiaan, novel Merajut Harkat ini mengkritik tentang ironis dan penghinaan terhadap martabat manusia tersembunyi suatu gambaran ideal tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dan bagaimana manusia seharusnya diperlakukan. Meskipun pesan yang disampaikan tidaklah terdengar moralistis sekali, idealisme tampak jelas terlihat di situ dalam bentuk harapan atau angan-angan yang disadari berbenturan dengan kenyataan pada saat itu. Masalah politik-ideologi, kritik terhadap media politik-ideologi diterapkan dalam wacana hukum, budaya, dan sejarah bangsa dalam bentuk rasionalisasi pemikiran. Masalah Institusi, pada tataran institusi atau pemerintahan kritik terhadap peraturan dan operasional penjara yang berusaha mengontrol para tahanan sehingga tak berani melawan peraturan yang ada. Tahanan dihadapkan pada pilihan sulit selain mengikuti peraturan yang ada. bentuk kritikan terhadap institusi pendidikan menyebarkan wacana pengetahuan dalam bentuk objektivas pemikiran. Bentuknya ialah orang-orang yang pernah masuk dalam institusi ini memiliki pemikiran yang lebih dalam menganalisa keadaan yang ada.