Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Sebuah Laporan Kasus: Pasien Filariasis (Elephantiasis) yang Misdiagnosis Dwiana Savitri
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (April–Mei 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i1.817

Abstract

Filariasis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh cacing Filaria sp. yang dapat menyerang kelenjar dan saluran getah bening. Pengobatan spesifik untuk infeksi dilakukan dengan pemberian kombinasi Dietilcarbamazine (DEC) dan doksisiklin. Dalam beberapa kasus, pemberian terapi diethylcarbamazine dapat memberikan efek samping yang beragam kepada penderita. Efek samping itu diakibatkan adanya reaksi imun dari tubuh. Penanganan yang terlambat dikarenakan pengetahuan tentang penyakit ini adalah hal yang akan memperparah keadaan pasien.
Kulit Kayu Bangkal (Nauclea Subdita) sebagai Antihiperpigmentasi pada Bedak Dingin Kalimantan Dwiana Savitri; Asima Rohana Siagian
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (April–Mei 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i1.839

Abstract

Salah satu masalah kulit yang sering ditemui adalah hiperpigmentasi yang terjadi akibat adanya sintesis melanin berlebihan. Hiperpigmentasi dapat diatasi dengan agen anti hiperpigmentasi yang berguna dalam menghambat aktivitas enzim tirosinase yang berperan dalam mengkatalisis proses biosintesis melanin. Kulit kayu bangkal (Nauclea subdita) dipercaya memiliki agen anti hiperpigmentasi karena sering digunakan sebagai bedak dingin oleh masyarakat Kalimantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi senyawa aktif ekstrak kulit kayu bangkal dalam menghambat enzim tirosinase yang akan dibandingkan dengan ligan alami dan ligan pembandingnya secara in silico. Uji in silico dilakukan secara penambatan molekuler dengan tahapan yaitu preparasi ligan, optimasi tirosinase serta validasi dan penambatan. Metode penambatan molekuler telah dinyatakan valid karena RMSD yang diperoleh < 2 Å. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa terdapat beberapa senyawa yang menunjukkan penghambatan terhadap enzim tirosinase ditandai dengan rendahnya nilai energi bebas (-?G) salah satunya adalah Urolithin B 3-O-glucuronide dengan energi sebesar -8,81 kcal/mol. Hasil jenis ikatan yang terjadi dalam penelitian didapatkan semua senyawa uji dapat berinteraksi dengan bagian sisi aktif enzim tirosinase dengan jumlah interaksi berkisar antara satu sampai empat dan dalam bentuk ikatan hidrogen. Kesimpulan senyawa aktif ekstrak kulit kayu bangkal dapat dijadikan salah satu alternatif antihiperpigmentasi.
Lucio Phenomenon pada Penyakit Hansen: Sebuah Kasus yang Terabaikan Dwiana Savitri
Jurnal Ilmu Multidisiplin Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu Multidisplin (Juni–Juli 2025)
Publisher : Green Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jim.v4i2.902

Abstract

Diagnosis kusta Lucio sulit dilakukan karena manifestasi pada kulit tidak khas, sehingga pasien sering datang ketika kondisinya sudah parah disertai dengan fenomena Lucio. Seorang pria berusia 25 tahun, mengeluhkan bercak hitam dan luka disertai lepuh yang pecah tersebar di sekujur tubuh sejak 4 hari terakhir.  Riwayat penggunaan obat steroid jangka panjang untuk keluhan kaki yang sering bengkak dan nyeri lama kelamaan wajah terasa bengkak dan bulat serta timbul guratan-guratan di perut. Riwayat mengonsumsi obat MDT selama 1 tahun. Pemeriksaan dermatologis diperoleh, makula purpura dengan area ulserasi yang besar dan banyak, dengan batas tidak beraturan dan sudut tajam, di daerah ekstremitas bawah disertai erosi, sebagian ditutupi dengan jaringan nekrotik kehitaman dengan luas permukaan tubuh mencapai 40%. Pemeriksaan slit smear apusan kulit menemukan bakteri tahan asam dengan indeks bakteri +6 dan indeks morfologi 1%. Sementara pada perwarnaan Ziehl Neelsen ditemukan bakteri tahan asam dalam jumlah besar, tersebar di area dermis, dan sebagian mencapai endotelium pembuluh darah mendukung gambaran fenomena Lucio. Pasien mengalami lekositosis dan kenaikan gula darah, karena keluhan nyeri sendi, pasien dirawat di departemen Penyakit Dalam dengan diagnosis radang sendi dan tidak pernah berkonsultasi dengan dermatologist. Fenomena Lucio adalah reaksi kusta parah yang sulit dikenali dengan manifestasi klinis berupa lesi kulit necrotizing erythema, terutama pada ekstremitas. Pengetahuan tentang penyakit morbus Hansen dengan fenomena lucio masih terbatas,ini merupakan kendala utama yang sering ditemui pada saat penatalaksanaan, sehingga terjadi misdiagnosis seperti pada kasus ini. Terapi multidrug untuk kusta multibasiler (MDT-MB) menurut rejimen WHO adalah terapi utama yang dapat  dikombinasikan dengan kortikostroid sistemik.